1
1
Rencana pemasangan chattra atau payung bertingkat di puncak stupa induk Candi Borobudur kembali menjadi perbincangan hangat. Ide ini memunculkan beragam pandangan yang saling berhadapan, melibatkan aspek sejarah, keagamaan, hingga ekonomi masyarakat.
Alhamdulillah, penulis pernah berkesempatan turut serta membahas perencanaan tersebut. Berikut adalah catatan penting mengenai pro dan kontra dari rencana ini:
Pengusung: Nilai Spiritual dan Harapan Ekonomi
Pihak yang mengusung pemasangan chattra umumnya melihat dari sudut pandang keagamaan dan pengembangan pariwisata. Alasan utama mereka meliputi:
Pandangan yang Menolak: Prinsip Ilmiah dan Keaslian
Di sisi lain, banyak kalangan ahli sejarah, arkeolog, dan pemerhati budaya menyuarakan penolakan dengan alasan fundamental:
Aspek Penting: Universalitas dan Sifat Lintas Agama
Satu poin krusial yang sering menjadi perhatian publik adalah identitas Borobudur itu sendiri.
Borobudur telah diakui oleh UNESCO memiliki Nilai Universal Luar Biasa (Outstanding Universal Value). Artinya, candi ini dianggap sebagai milik seluruh umat manusia dan ikon peradaban bangsa, bukan hanya milik satu kelompok agama tertentu.
Selama puluhan tahun, Borobudur telah menjadi destinasi yang inklusif dan lintas agama. Pengunjung dari berbagai latar belakang keyakinan datang bukan semata-mata untuk tujuan ritual, melainkan untuk mengagumi keindahan arsitektur, kedalaman filosofi, dan kekayaan sejarah Nusantara. Borobudur berhasil menjadi simbol persatuan dan kekaguman bersama.
Kekhawatiran yang muncul adalah, dengan pemasangan chattra yang sangat identik dengan simbol agama Buddha, ada risiko pergeseran persepsi. Dari yang sebelumnya dipandang sebagai “Aset Budaya Nasional yang terbuka untuk semua”, bisa berubah persepsinya menjadi lebih spesifik sebagai “Simbol Keagamaan Tertentu”. Hal ini dikhawatirkan dapat menurunkan tingkat kunjungan wisata, yang pada gilirannya akan berdampak langsung pada perekonomian masyarakat. Selain itu, bagi masyarakat sekitar yang memiliki ikatan batin kuat dengan Borobudur, pergeseran persepsi ini berpotensi mengikis rasa memiliki (sense of belonging) mereka yang selama ini sudah merasa sangat dekat dan bangga dengan candi tersebut.
Kesimpulan
Perdebatan pemasangan chattra di Borobudur pada dasarnya adalah tarik-ulur antara dua kepentingan besar:
Apapun keputusan yang pada akhirnya diambil, kepastian data ilmiah, kehati-hatian teknis, dan pemahaman bahwa Borobudur adalah harta bersama yang harus tetap bisa dinikmati dan dibanggakan oleh seluruh elemen bangsa, menjadi hal yang paling utama untuk diprioritaskan.