Popular Posts

PEWARISAN BOROBUDUR SEBAGAI WARISAN HIDUP DAN TANGGUNG JAWAB BERSAMA

Redaksi Sekolah Kehidupan

Gerakan Ruwat Rawat Borobudur merupakan gerakan pelestarian berbasis masyarakat yang telah berjalan selama 24 tahun. Gerakan ini lahir dari kesadaran bahwa Borobudur bukan sekadar bangunan cagar budaya atau destinasi wisata, melainkan warisan peradaban yang mengandung nilai-nilai kemanusiaan, kebudayaan, spiritualitas, dan kebangsaan yang harus terus diwariskan kepada generasi penerus.

Selama lebih dari dua dekade, Gerakan Ruwat Rawat Borobudur secara konsisten menyelenggarakan berbagai kegiatan pelestarian dan pendidikan publik, antara lain diskusi, seminar, webinar, penerbitan buku, dokumentasi sejarah, kompetisi penulisan, Kongres Borobudur, Borobudur Dalam Logika Angka, hingga Forum Group Discussion (FGD) Sekolah Kehidupan yang mempertemukan berbagai pemangku kepentingan dari kalangan pemerintah, akademisi, peneliti, budayawan, tokoh masyarakat, pegiat komunitas, dan generasi muda.

Dalam perjalanannya, Gerakan Ruwat Rawat Borobudur telah membangun kerja sama dan komunikasi dengan berbagai pihak, mulai dari masyarakat, perguruan tinggi, pemerintah daerah, kementerian, hingga lembaga penelitian. Hal ini menunjukkan bahwa pelestarian Borobudur merupakan tanggung jawab bersama yang melampaui batas sektor maupun wilayah administratif.

Gerakan Ruwat Rawat Borobudur tidak memandang Borobudur hanya dalam batas wilayah Kecamatan Borobudur atau 20 desa di sekitarnya. Sebagai gerakan pelestarian, Ruwat Rawat Borobudur memandang Borobudur sebagai aset strategis bangsa dan warisan dunia yang baik buruk pengelolaannya akan berpengaruh terhadap nama baik Indonesia di mata dunia.

Atas dasar itulah, perhatian Gerakan Ruwat Rawat Borobudur tidak hanya tertuju pada pelestarian fisik bangunan, tetapi juga pada pelestarian nilai, pengetahuan, tradisi, kesadaran masyarakat, dan proses pewarisan Borobudur kepada generasi mendatang.

Berbagai diskusi dalam rangkaian Sekolah Kehidupan, termasuk FGD Sekolah Kehidupan ke-18 dalam rangka 24 Tahun Gerakan Ruwat Rawat Borobudur yang mengangkat tema “Waisak, Borobudur, Pewarisan, dan Siapa Masyarakat?”, memperlihatkan adanya kebutuhan mendesak untuk memperkuat perspektif pewarisan dalam tata kelola Borobudur.

Selama beberapa dekade terakhir, perhatian publik lebih banyak tertuju pada konservasi fisik, pengembangan pariwisata, pembangunan infrastruktur, dan pengelolaan kawasan. Berbagai persoalan juga terus muncul, mulai dari tantangan menjaga keseimbangan antara konservasi dan pariwisata, dinamika tata kelola antar-lembaga, hingga berbagai persoalan sosial ekonomi yang dirasakan masyarakat di sekitar kawasan.

Namun di tengah berbagai capaian dan persoalan tersebut, muncul satu pertanyaan mendasar yang perlu dijawab bersama:

Siapa yang akan mewarisi Borobudur?

Pertanyaan tersebut menjadi penting karena keberhasilan pemugaran belum tentu identik dengan keberhasilan pewarisan. Borobudur dapat terawat secara fisik, kawasan dapat terus berkembang, dan jumlah wisatawan dapat meningkat. Namun nilai-nilai yang dikandungnya belum tentu dipahami, dihayati, dan diwariskan kepada generasi penerus.

Bagi Gerakan Ruwat Rawat Borobudur, pewarisan Borobudur bukanlah pewarisan batu, melainkan pewarisan kesadaran. Kesadaran untuk memahami sejarah, menghormati keberagaman, merawat kebudayaan, menjaga lingkungan, serta membangun tanggung jawab bersama terhadap warisan peradaban yang dimiliki bangsa Indonesia.

Dalam konteks itulah, Borobudur perlu terus dipahami sebagai warisan hidup (living heritage). Warisan yang tidak hanya dijaga melalui konservasi fisik, tetapi juga melalui pendidikan, kebudayaan, penelitian, dialog, dan keterlibatan masyarakat. Sebuah warisan hidup hanya akan bertahan apabila masyarakat merasa memiliki hubungan yang bermakna dengannya.

Selama ini Borobudur sering dibicarakan melalui angka-angka: jumlah wisatawan, nilai investasi, tingkat okupansi hotel, panjang jalan yang dibangun, atau besarnya anggaran yang dialokasikan. Semua itu penting sebagai ukuran pembangunan. Namun terdapat satu hal yang jauh lebih sulit diukur, yaitu tumbuh atau berkurangnya kesadaran masyarakat terhadap Borobudur.

Ketika masyarakat semakin memahami nilai-nilai Borobudur, ketika generasi muda mulai merasa memiliki, ketika tradisi dan pengetahuan lokal tetap hidup, saat itulah proses pewarisan sedang berlangsung. Sebaliknya, ketika hubungan masyarakat dengan Borobudur semakin renggang, maka sesungguhnya kita sedang menghadapi ancaman yang tidak selalu terlihat oleh statistik.

Mungkin pada akhirnya pertanyaan terbesar tentang Borobudur bukanlah bagaimana menjaga batu-batunya tetap berdiri selama ratusan tahun. Pertanyaan yang lebih mendasar adalah bagaimana menjaga kesadaran manusia agar tetap hidup dari generasi ke generasi. Sebab batu dapat dipugar, bangunan dapat dipelihara, dan kawasan dapat ditata. Namun kesadaran hanya dapat diwariskan melalui keteladanan, pendidikan, kebudayaan, dan keterlibatan bersama.

Di situlah sesungguhnya masa depan Borobudur dipertaruhkan.

Borobudur telah berhasil dipugar.

Namun pewarisan Borobudur masih harus terus diperjuangkan.

Karena pada akhirnya, pewarisan Borobudur bukanlah pewarisan batu, melainkan pewarisan kesadaran.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *