Popular Posts

TIGA IBU RUMAH TANGGA, SEKOLAH KEHIDUPAN, DAN JALAN PEWARISAN BOROBUDUR

Peran Ari Yuliani, Dayumia Wulandari, dan Purwanti dalam Pendidikan Lingkungan untuk Anak Bangsa

Redaksi Sekolah Kehidupan


Borobudur, Magelang – Di tengah berbagai diskusi besar tentang masa depan Borobudur, sering kali perhatian tertuju pada kebijakan, pariwisata, atau pelestarian fisik candi. Namun sesungguhnya, masa depan Borobudur juga ditentukan oleh hal-hal sederhana yang tumbuh di tengah masyarakat: bagaimana pengetahuan diwariskan, bagaimana lingkungan dijaga, dan bagaimana generasi muda diajak belajar dari kehidupan sehari-hari.

Di titik inilah peran tiga ibu rumah tangga kreatif—Ari Yuliani, Dayumia Wulandari, dan Purwanti menjadi penting untuk diperbincangkan dalam Bincang Sekolah Kehidupan ke-17 Tahun 2026, bagian dari rangkaian “Gelar Borobudur Dalam Logika Angka” pada 28–30 Mei 2026 di Kampoeng Seni Borobudur.

Bagi sebagian orang, pengelolaan sampah mungkin dianggap persoalan kecil. Namun bagi ketiganya, persoalan limbah rumah tangga justru menjadi pintu masuk pendidikan kehidupan. Mereka menunjukkan bahwa perubahan besar dapat dimulai dari rumah, dapur, halaman, dan lingkungan terdekat masyarakat.

Ari Yuliani berperan sebagai pembimbing ibu rumah tangga kreatif yang mendorong perubahan cara pandang terhadap sampah. Baginya, limbah bukan semata barang buangan, tetapi peluang pembelajaran, kreativitas, dan penguatan ekonomi keluarga.

Melalui pendampingan yang dilakukan, Ari berusaha membangun kesadaran bahwa pendidikan lingkungan tidak harus dimulai dari ruang kelas formal. Pendidikan dapat tumbuh dari praktik sehari-hari, ketika masyarakat belajar memilah sampah, mengolah limbah, dan memahami hubungan antara manusia dengan alam.

Sementara itu, Dayumia Wulandari dan Purwanti menghadirkan praktik nyata pengolahan limbah berbasis rumah tangga melalui pengembangan Eco Enzym, pemanfaatan minyak jelantah menjadi sabun, budidaya jamur tiram berbasis limbah organik, hingga pengolahan kardus bekas menjadi karya kreatif bernilai edukatif.

Melalui praktik-praktik tersebut, mereka tidak hanya mengurangi persoalan sampah, tetapi juga menghadirkan ruang belajar yang membumi bagi masyarakat. Sampah organik yang semula dianggap tidak berguna diolah menjadi cairan multifungsi ramah lingkungan. Minyak jelantah yang biasanya mencemari saluran air diubah menjadi sabun. Bahkan kardus bekas dapat menjelma menjadi media kreativitas dan pembelajaran.

Pendekatan seperti inilah yang dipandang relevan dengan semangat Sekolah Kehidupan, sebuah ruang pembelajaran yang selama ini dikembangkan dalam gerakan Ruwat Rawat Borobudur oleh Yayasan Brayat Panangkaran Borobudur.

Sekolah Kehidupan bukan sekadar forum diskusi, melainkan ruang pewarisan nilai tempat masyarakat belajar membaca persoalan kehidupan secara utuh: budaya, lingkungan, spiritualitas, pendidikan, hingga masa depan generasi muda.

Dalam konteks Borobudur, pewarisan tidak cukup berhenti pada menjaga batu-batu candi atau merawat kawasan wisata. Pewarisan juga berarti menjaga cara hidup yang diwariskan leluhur: hidup selaras dengan alam, menghormati keseimbangan, dan membangun tanggung jawab terhadap lingkungan.

Persoalan tersebut akan dipaparkan secara lebih gamblang dalam “Gelar Borobudur Dalam Logika Angka” – Bincang Sekolah Kehidupan pada 28–30 Mei 2026 di Kampoeng Seni Borobudur. Kehadiran tiga ibu rumah tangga kreatif ini menjadi penanda bahwa pewarisan Borobudur tidak hanya lahir dari akademisi atau pengambil kebijakan, tetapi juga tumbuh dari masyarakat akar rumput yang menjalani praktik kehidupan sehari-hari.

Dalam forum tersebut, perspektif ilmiah juga akan diperkuat oleh Novita Siswayanti dari BRIN, sehingga perjumpaan antara pengalaman masyarakat dan pengetahuan ilmiah diharapkan mampu memperkaya arah pewarisan Borobudur ke depan.

Pada akhirnya, kehadiran Ari Yuliani, Dayumia Wulandari, dan Purwanti memberi pengingat penting: bahwa merawat Borobudur tidak selalu dimulai dari hal besar. Kadang, ia justru tumbuh dari tindakan sederhana mengolah sampah, menjaga lingkungan, berbagi pengetahuan, dan menanamkan kesadaran kepada anak-anak tentang cara hidup yang lebih bijaksana.

Karena Borobudur akan tetap hidup, ketika nilai-nilainya diwariskan dalam praktik kehidupan masyarakat sehari-hari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *