1
1
1
2
3
4
5
Redaksi Sekolah Kehidupan
Borobudur – Magelang, 11 Juni 2026
Sepinya kunjungan wisata ke Candi Borobudur kini tidak hanya dirasakan oleh para pedagang cenderamata, tetapi juga merambat hingga ke seluruh mata rantai ekonomi masyarakat sekitar. Kondisi ini terungkap dalam percakapan warga Borobudur, di antaranya Pak Sugeng, pedagang cenderamata, dan Pak Sentot Prawirodirjo, seorang tukang las.
Pak Sugeng mengaku kios yang pernah dimilikinya di kawasan wisata tidak mampu bertahan karena minim pengunjung. Ia kemudian memilih berjualan keliling menawarkan batik dan cenderamata. Hal serupa dirasakan banyak warga lainnya. Warung makan, pedagang, pengrajin, hingga pekerja jasa mengeluhkan menurunnya pendapatan akibat semakin berkurangnya wisatawan yang datang.
Fenomena ini menghadirkan ironi. Di satu sisi kawasan inti Borobudur semakin tertata dan megah, namun di sisi lain manfaat ekonomi yang dirasakan masyarakat sekitar justru semakin terbatas. Wisatawan cenderung beraktivitas di zona utama dan tidak banyak menjangkau ruang-ruang ekonomi milik warga.
Padahal, pariwisata Borobudur merupakan salah satu penopang utama kehidupan masyarakat. Jumlah penduduk di Kecamatan Borobudur diperkirakan mencapai sekitar 64.600 jiwa yang tersebar di 20 desa, dengan Desa Borobudur dan Wringinputih sebagai wilayah berpenduduk terbesar. Dari jumlah tersebut, diperkirakan sekitar 18.000 jiwa menggantungkan kehidupan secara langsung maupun tidak langsung pada sektor pariwisata. Karena itu, setiap penurunan kunjungan wisatawan akan segera berdampak pada penghasilan ribuan keluarga yang hidup dari aktivitas ekonomi yang terkait dengan Borobudur.
Kondisi ini mengingatkan kita pada salah satu ajaran yang terpahat di kaki Candi Borobudur, yaitu Karmawibhangga, hukum sebab-akibat. Ajaran ini mengingatkan bahwa setiap tindakan, keputusan, dan kebijakan akan menghasilkan konsekuensinya sendiri. Apa yang ditanam, itulah yang pada akhirnya akan dipanen.
Borobudur bukan sekadar bangunan warisan dunia atau destinasi wisata. Ia juga menyimpan pesan tentang keadilan, keseimbangan, dan tanggung jawab terhadap kehidupan masyarakat yang hidup di sekitarnya. Karena itu, keberhasilan pengelolaan Borobudur tidak cukup diukur dari megahnya kawasan, banyaknya proyek pembangunan, atau jumlah investasi yang masuk, tetapi juga dari sejauh mana manfaatnya dirasakan oleh masyarakat.
Sepinya Borobudur hari ini dapat menjadi bahan refleksi bersama. Sebab pelestarian Borobudur sesungguhnya bukan hanya tentang merawat batu-batu candi, melainkan juga merawat kehidupan dan kesejahteraan masyarakat yang menjadi bagian dari warisan hidup Borobudur.
Sebagaimana sering disampaikan dalam Gerakan Ruwat Rawat Borobudur, tantangan terbesar Borobudur bukan lagi sekadar pemugaran fisik. Borobudur berhasil dipugar, tetapi pewarisannya belum tentu berhasil. Pewarisan yang dimaksud bukanlah pewarisan batu, melainkan pewarisan kesadaran bahwa keberadaan Borobudur harus memberi manfaat bagi masyarakat yang hidup bersamanya.
Karena pada akhirnya, sebagaimana diajarkan Karmawibhangga, kehidupan selalu mengembalikan apa yang ditanam manusia. Dan masa depan Borobudur akan sangat ditentukan oleh bagaimana kita memperlakukan masyarakat yang hidup bersama warisan agung tersebut.