1
1
1
2
3
4
5
Oleh Sucoro Setrodiharjo
Di negeri yang kaya akan warisan budaya, sering kali kita dihadapkan pada kenyataan yang tidak sepenuhnya selaras dengan harapan. Kebijakan dibuat atas nama pelestarian, pembangunan, dan kesejahteraan. Namun di lapangan, masyarakat justru belajar dari sesuatu yang berbeda: ketidakpastian, ketimpangan, dan realitas yang kerap terasa semu.
Belajar dari kehidupan di sekitar kawasan budaya, kita menemukan satu pelajaran penting: bahwa tidak semua kebijakan benar-benar berpihak pada manusia yang hidup di dalamnya. Ada jarak yang menganga antara konsep dan pelaksanaan. Di atas kertas, semuanya tampak rapi dan ideal. Tetapi ketika bersentuhan dengan kehidupan sehari-hari masyarakat, kebijakan itu sering kehilangan ruhnya.
Masyarakat diposisikan sebagai objek, bukan subjek. Mereka diharapkan mendukung, mengikuti, bahkan berkorban demi sesuatu yang disebut “kepentingan bersama”. Namun ironisnya, hasil dari pengorbanan itu tidak selalu kembali kepada mereka. Kehidupan tetap berjalan dalam keterbatasan, sementara geliat pembangunan justru lebih terasa di permukaan.
Di sinilah proses “sinau maca kahanan” menjadi relevan—belajar membaca situasi. Masyarakat tidak lagi sekadar menerima, tetapi mulai memahami. Mereka belajar melihat celah, merasakan ketidaksesuaian, dan perlahan menyadari bahwa ada sesuatu yang perlu disikapi.
Belajar di bawah kebijakan yang semu bukan berarti pasrah. Justru dari kondisi itulah lahir kesadaran. Kesadaran untuk tetap bertahan, untuk mencari cara, dan untuk menjaga nilai-nilai yang tidak bisa diwakilkan oleh kebijakan formal. Nilai kebersamaan, gotong royong, serta kearifan lokal menjadi benteng yang tidak mudah runtuh.
Dalam banyak kasus, ruang-ruang kecil justru menjadi tempat tumbuhnya kesadaran besar. Obrolan sederhana, pertemuan informal, hingga diskusi tanpa sekat menjadi media belajar yang nyata. Dari sana muncul gagasan, kritik, bahkan gerakan yang perlahan membangun kesadaran kolektif.
Kebijakan boleh saja datang dan pergi, berubah mengikuti zaman dan kepentingan. Namun pengalaman hidup masyarakat adalah guru yang tidak pernah salah. Dari pengalaman itu, mereka belajar bahwa hidup tidak bisa sepenuhnya diserahkan pada sistem. Ada ruang yang harus diisi oleh kesadaran diri dan kekuatan bersama.
Belajar di bawah kebijakan yang semu pada akhirnya adalah tentang menemukan makna di balik ketidakjelasan. Tentang bagaimana manusia tetap bisa berdiri tegak di tengah ketidakpastian. Dan yang terpenting, tentang bagaimana menjaga nilai kehidupan agar tetap hidup, meskipun arah kebijakan kadang terasa kabur.
Karena sejatinya, kehidupan tidak hanya ditentukan oleh kebijakan, tetapi oleh cara manusia memaknai dan menjalaninya.