Popular Posts

Sekilas tentang Tradisi Rebo Wekasan Desa Wanurejo

Wawancara dengan Yayuk, Ida, Indar, Suradi, Mursyidi
Oleh: Novita Siswayanti

Tradisi Rebo Wekasan setiap tahun dilaksanakan oleh masyarakat Dusun Gedongan, Desa Wanurejo, pada hari Rabu terakhir bulan Safar. Tradisi ini bertujuan sebagai tolak bala serta permohonan keselamatan kepada Sang Mahakuasa agar desa terhindar dari berbagai marabahaya.

Tradisi Rebo Wekasan diprakarsai oleh Mbah Joyowijoyo, pendiri Dusun Gedongan. Beliau mewariskan kebiasaan penyembelihan hewan kambing yang wajib dilaksanakan setiap tahun oleh masyarakat. Kambing tersebut kemudian dimasak dan dimakan bersama-sama sebagai simbol kebersamaan. Hewan kambing diperoleh dari hasil jimpitan (iuran) masyarakat sebagai bentuk kekeluargaan, solidaritas, dan gotong royong dalam menjaga keselamatan dusun.

Rangkaian kegiatan Rebo Wekasan berlangsung sepanjang hari, dari pagi hingga malam. Pada pagi hari diawali dengan prosesi penyembelihan sepasang kambing jantan dan betina yang didahului dengan seremoni serta arak-arakan ogoh-ogoh kambing mengelilingi perempatan dusun. Kegiatan ini diakhiri dengan makan bersama. Hidangan yang disajikan antara lain nasi tumpeng ungu berbahan bunga telang, santan, dan serai, serta lauk ikan wader dari sungai.

Siang hari dilanjutkan dengan pengajian, kemudian masyarakat menikmati hidangan olahan daging kambing. Kepala kambing dimasak ingkung, sedangkan dagingnya diolah menjadi gulai atau kerik kambing yang dibungkus bersama sayuran menggunakan daun jati. Pada malam hari, masyarakat disuguhi pertunjukan seni tari Topeng Ireng Dayakan dengan iringan musik kolaborasi Kubro Siswo dan Dayakan.

Tradisi ini diawali dengan kirab warga yang mengenakan pakaian adat Jawa untuk mengambil air dari Kali Sileng, sumber mata air yang dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Dalam prosesi tersebut terdapat ritual memecah kendi yang berisi ikan pethek wader. Ikan tersebut kemudian dilepaskan ke Kali Sileng sebagai bentuk pelestarian dan pengembangbiakan ikan wader, yang juga menjadi salah satu sumber pangan masyarakat setempat.

Air dari Kali Sileng kemudian dibawa ke perempatan dusun, tempat pelaksanaan ritual utama. Selanjutnya dilakukan penyerahan kendi berisi air serta sepasang kambing jantan dan betina. Kambing tersebut harus berasal dari swadaya masyarakat, bukan dari sponsor atau pihak luar. Setiap keluarga memberikan jimpitan untuk membeli kambing tersebut.

Sepasang kambing melambangkan kerukunan dan kekompakan masyarakat dalam memohon keselamatan. Sebelum disembelih, kambing dimandikan menggunakan air Kali Sileng yang telah dicampur dengan kembang setaman. Setelah itu kambing disembelih, dan keempat kakinya ditanam di empat penjuru dusun sebagai simbol tolak bala. Sementara itu, kepala dan badan kambing dimasak dan disantap bersama dalam kenduri.

Menariknya, prosesi ini juga dimeriahkan dengan pasar budaya yang menampilkan berbagai karya masyarakat Desa Wanurejo. Beragam kuliner khas disajikan, seperti peyek ikan wader, peyek kacang, peyek jamur, minuman jahe, serta minuman bunga telang. Selain itu, terdapat pula kerajinan lokal seperti sandal upanat, figura bambu, dan batik.

Kerajinan bambu Wanurejo bahkan pernah memperoleh rekor MURI sebagai bambu tertua dengan usia mencapai 30 tahun. Figura bambu diukir menggunakan alat seperti tatah, gorok, dan jungkat, kemudian diberi pewarna. Motif yang dihasilkan antara lain tokoh pewayangan seperti Semar, Gareng, Bagong, Punakawan, hingga Bima. Produk ini telah dipasarkan hingga ke mancanegara, seperti Malaysia, Jepang, dan Portugal.

Sementara itu, batik yang ditampilkan merupakan karya kelompok wanita tani Wanurejo. Motif batik mereka terinspirasi dari relief candi, seperti lotus (teratai), kalpataru, kendi, manggis, pilar candi, dan pohon bodhi. Kerajinan batik ini berawal dari program pemberdayaan desa oleh UNESCO pada tahun 2010, saat erupsi Gunung Merapi menyebabkan abu vulkanik menutupi kawasan candi.

Dalam program tersebut, masyarakat mendapat pelatihan membatik selama dua bulan dengan pertemuan rutin setiap minggu. Peserta difasilitasi peralatan membatik seperti canting, malam, dan kain. Mereka juga diajak mengamati langsung relief candi sebagai sumber inspirasi motif. Hingga kini, kegiatan membatik terus berlanjut secara mandiri.

Kelompok wanita tani Wanurejo bahkan telah memiliki “Omah Batik” yang menjadi destinasi wisata edukasi. Para wisatawan dapat belajar langsung proses membatik sekaligus mengenal kearifan lokal masyarakat Desa Wanurejo.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *