Popular Posts

Jejak Randu Alas  Menghidupkan Kembali “Tetenger” Tuksongo yang Hilang

Selain tradisi spiritual yang mewarnai suasana Lebaran di kawasan Borobudur, tahun ini masyarakat juga dihadapkan pada sebuah ikhtiar penting: merawat ingatan kolektif tentang sejarah lokal yang perlahan memudar. Salah satu langkah yang tengah dirancang adalah pembangunan Monumen Randu Alas di kawasan Tuk Songo.

Gagasan ini bukan sekadar proyek pembangunan fisik, melainkan upaya menghadirkan kembali sebuah “tetenger” penanda zaman yang dahulu hidup di tengah masyarakat.

Dalam sebuah perbincangan, Kepala Desa Tuksongo, Pak Lurah Karim, menyampaikan bahwa arah pembangunan desa harus tetap berpijak pada nilai-nilai masa lalu, tanpa mengabaikan tata kelola yang baik di masa kini.

Beliau menegaskan bahwa setiap rencana pembangunan, termasuk pengembangan Randu Alas sebagai destinasi pendukung wisata, harus melalui proses yang sah dan partisipatif.

“Anggaran desa atau negara tidak bisa cair serta-merta. Semua ada prosesnya, harus melalui Musyawarah Desa (Musdes) dan disepakati bersama.”

Prinsip kolektif ini menjadi fondasi penting. Bahkan untuk urusan yang tampak sederhana seperti penebangan pohon, hingga pengembangan kawasan wisata, masyarakat tetap harus dilibatkan agar tidak ada keputusan yang berjalan sepihak.

Di tengah berkembangnya berbagai mitos yang kerap melekat pada pohon-pohon besar di sekitar Borobudur, Pak Lurah memberikan penegasan yang jernih. Randu Alas ke depan tidak diarahkan sebagai tempat ritual atau persembahyangan, melainkan sebagai monumen sejarah dan edukasi.

“Karena mayoritas masyarakat di sini Muslim, arahnya adalah monumen sejarah. Kami ingin wisatawan tahu bahwa di Tuk Songo pernah berdiri pohon Randu Alas yang melegenda.”

Monumen ini diharapkan menjadi ruang ingatan bersama—sekaligus titik temu antara masa lalu dan masa kini. Ia akan menjadi spot ikonik bagi wisatawan, tetapi lebih dari itu, menjadi pengingat akan kekayaan ekologis dan kearifan lokal desa.

Makna Randu Alas bagi Warga

Bagi masyarakat Tuksongo, Randu Alas bukan sekadar pohon tua. Ia adalah bagian dari kehidupan yang menyatu dengan keseharian. Diperkirakan berusia ratusan tahun—bahkan mungkin sezaman dengan narasi besar di sekitar Borobudur—pohon ini memiliki peran yang sangat vital:

  • Pelindung Mata Air
    Akar-akar besarnya menjaga ketersediaan air dan keseimbangan lingkungan sekitar.
  • Ruang Sosial
    Naungannya menjadi tempat berkumpul, berbincang, dan menjalin keakraban antarwarga.
  • Tetenger (Penanda)
    Sosoknya yang menjulang tinggi menjadi penunjuk arah alami penanda bahwa seseorang telah sampai di wilayah Tuk Songo.

Kehilangan Randu Alas bukan hanya kehilangan fisik, tetapi juga kehilangan penanda identitas kolektif. Karena itulah, monumen yang direncanakan menjadi cara untuk menjaga ruhnya tetap hidup.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *