1
1
1
2
3
4
5
Di kaki Candi Borobudur, suasana Idul Fitri 1447 H tahun ini terasa khidmat sekaligus sarat makna. Hal itu tergambar dari cerita Pak Darus, kaum Desa Candirejo, bersama Pak Umar Syaid, Kepala Desa Ngargogondo, yang menuturkan bagaimana tradisi dan nilai-nilai lokal tetap hidup di tengah perubahan zaman.
Bagi masyarakat setempat, persiapan Lebaran tidak dimulai saat gema takbir berkumandang. Ia telah dimulai jauh sebelumnya, sepanjang bulan Ramadan. Di Candirejo, tradisi Khataman Al-Qur’an menjadi penanda penting. Warga berkumpul dalam selamatan sebagai wujud syukur sekaligus sarana mengirim doa njaluk ngapuro bagi para leluhur.
“Ini adalah ijazah magfiroh, permohonan ampunan kolektif agar hati bersih sebelum merayakan hari kemenangan,” tutur Pak Darus.
Lebaran di sini bukan sekadar perayaan, melainkan perayaan rasa dan makna. Sajian dalam kenduri pun tidak hadir tanpa filosofi. Nasi Golong melambangkan kebulatan tekad dan persatuan (manunggal). Ambeng dan ingkung ayam menjadi simbol bakti kepada Nabi Muhammad SAW. Gantusari dan gondosari merepresentasikan kehalusan budi, sementara jenang merah putih (among-among) menjadi doa keselamatan yang sering hadir dalam momentum sakral seperti malam Jumat Kliwon.
Menariknya, kupat (ketupat) yang dahulu lazim kini mulai jarang hadir dalam kenduri formal. Ia berganti dengan paket nasi lengkap seperti serundeng, lento, dan pethek namun tetap menjaga cita rasa autentik desa.
Malam takbiran pun masih mempertahankan tradisi oncor, obor keliling desa yang menyala hangat. Cahaya api itu menjadi simbol pepadang penerang batin setelah sebulan menahan hawa nafsu.
Bagi Pak Umar Syaid, Lebaran adalah momentum nyepuh menguatkan kembali nilai hormat kepada yang dituakan. Silaturahmi tidak hanya berhenti pada lingkup tetangga dekat, tetapi menjangkau dusun-dusun yang lebih jauh sebagai bentuk pengabdian dan penjaga harmoni sosial.
Namun di balik kehangatan tradisi, terselip sebuah rasa yang berbeda. Ada jarak yang kini dirasakan warga terhadap Borobudur. Jika dahulu “munggah candi” menjadi bagian tak terpisahkan dari Lebaran bahkan menjadi agenda wajib bagi kerabat datang datang dari luar Kota karena merantau , atau mengikuti suami atau istri ,kini akses tersebut tidak lagi semudah dulu. Kebijakan pembatasan pengunjung demi konservasi membawa konsekuensi tersendiri bagi masyarakat lokal.
“Dulu Borobudur adalah halaman kami, sekarang tidak lagi semudah itu,” ungkap seorang warga.
Dalam konteks inilah, penting juga memahami kembali salah satu cerita yang lama hidup di tengah masyarakat: mitos Kunto Bimo. Kepercayaan ini menyebutkan bahwa seseorang yang dapat merogoh ke dalam stupa berongga dan menyentuh bagian tubuh arca Buddha di dalamnya akan memperoleh keberuntungan atau terkabul hajatnya.
Mitos tersebut berkembang dengan berbagai versi ada yang menyebut jari tangan tertentu bagi laki-laki, dan bagian kaki bagi perempuan. Arca ini dikenal sebagai arca Kunto Bimo dan berada di dalam stupa berongga berbentuk belah ketupat di teras bundar Arupadhatu.
Namun seiring meningkatnya kesadaran pelestarian, praktik “merogoh Kunto Bimo” kini tidak lagi diperbolehkan. Larangan ini bukan semata membatasi kepercayaan masyarakat, melainkan bentuk tanggung jawab bersama untuk menjaga keutuhan dan kesakralan warisan dunia. Sentuhan langsung yang berulang terbukti dapat mempercepat kerusakan fisik arca dan struktur stupa.
Di titik ini, masyarakat dihadapkan pada proses transformasi: dari keyakinan yang bersifat simbolik menuju pemaknaan yang lebih dalam. Bahwa keberkahan tidak lagi dicari melalui sentuhan fisik, melainkan melalui laku batin doa, kesadaran, dan kebersihan hati.
Harapannya, kebijakan pengelolaan ke depan mampu menemukan titik seimbang: menjaga kelestarian Borobudur sekaligus tetap merangkul masyarakat sekitar sebagai bagian tak terpisahkan dari denyut kehidupannya.
Lebaran di Ngargogondo dan Candirejo pada akhirnya menjadi cermin: bahwa moderasi beragama dan kearifan lokal dapat berjalan beriringan. Di tengah perubahan, nilai-nilai ngapuro, bakti, dan golong gilig tetap menjadi fondasi kuat.
Borobudur mungkin tak lagi seakrab dulu secara fisik, tetapi dalam batin masyarakatnya, ia tetap menjadi bagian dari kehidupan sebagai pustaka sunyi yang terus mengajarkan makna.