Popular Posts

Borobudur dan Krisis Pewarisan Nilai: Ketika Semua Berlomba Memanfaatkan, Siapa yang Mewariskan?

Redaksi Sekolah Kehidupan

Borobudur- Magelang Rabu 5 Agustus 2026 : Borobudur hari ini menghadapi sebuah paradoks. Di satu sisi, namanya semakin besar sebagai destinasi wisata dunia. Berbagai program, investasi, festival, dan kegiatan ekonomi tumbuh di sekitarnya. Namun di sisi lain, muncul pertanyaan yang semakin penting: siapa yang sungguh-sungguh memikirkan pewarisan nilai Borobudur?

Hampir semua pihak berbicara tentang pemanfaatan. Pemerintah berbicara tentang kunjungan wisatawan, pelaku usaha tentang peluang ekonomi, investor tentang pertumbuhan pasar, dan berbagai komunitas berlomba membangun kemitraan dengan kawasan Borobudur. Pemanfaatan tentu penting dan sah dilakukan. Namun persoalan muncul ketika pemanfaatan menjadi tujuan utama, sementara pewarisan nilai justru tertinggal.

Padahal Borobudur bukan sekadar objek wisata. Borobudur adalah mahakarya peradaban yang menyimpan pengetahuan, nilai moral, spiritualitas, etika kehidupan, dan pandangan hidup yang diwariskan oleh leluhur.

Ironisnya, semakin banyak orang datang ke Borobudur, semakin sedikit yang memahami makna yang terkandung di dalamnya. Generasi muda mengenal Borobudur sebagai tempat wisata, tetapi belum tentu memahami nilai gotong royong, harmoni dengan alam, penghormatan kepada sesama, dan ajaran moral yang tergambar dalam relief-reliefnya.

Di sinilah letak krisis yang sesungguhnya.

Krisis Borobudur hari ini bukan krisis batu, bukan krisis bangunan, dan bukan pula krisis jumlah pengunjung. Yang sedang terjadi adalah krisis pewarisan nilai.

Tradisi-tradisi yang selama berabad-abad menjadi ruang belajar masyarakat seperti pituturan, macapatan, merti desa, saparan, nyadran, dan berbagai tradisi lisan lainnya semakin terdesak oleh orientasi ekonomi dan hiburan. Padahal melalui tradisi-tradisi itulah masyarakat belajar tentang tata krama, gotong royong, kebersamaan, dan kebijaksanaan hidup.

Kegelisahan inilah yang melatarbelakangi penyelenggaraan Jamasan Pitutur dan Bincang Sekolah Kehidupan ke-27 dalam rangka 24 Tahun Gerakan Ruwat Rawat Borobudur, yang berlangsung pada 5 Agustus 2026 di Sanggar Manunggal Rasa, Tegalarum, Borobudur.

Kegiatan yang dilaksanakan secara luring dan daring tersebut menghadirkan Syamsul Hadi selaku Direktur KMA Kementerian Kebudayaan RI, Kuncoro Kepala Bidang Pengembangan Pariwisata ,Budaya dan Ekonomi Kreatif  Propinsi Jawa Tengah dan Akademisi , Prof. Agus Purwantoro, Novita Siswayanti BRIN, para pegiat budaya, akademisi, seniman, serta komunitas masyarakat.

Ritual Jamasan Pitutur diawali dengan Jamasan kenthongan, dan diiringi lantunan Gending Ayun-Ayun, doa bersama, dan selamatan tumpeng. Bagi masyarakat pendukungnya, ritual ini bukan sekadar seremoni, melainkan pengingat bahwa nilai-nilai luhur leluhur perlu terus dirawat dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Dalam forum tersebut mengemuka pandangan bahwa Borobudur harus dipahami sebagai living monument atau monumen hidup. Keberhasilan pelestarian tidak hanya diukur dari kokohnya bangunan candi atau banyaknya wisatawan yang datang, tetapi juga dari hidupnya nilai-nilai Borobudur di tengah masyarakat.

Borobudur tidak boleh hanya dipandang sebagai aset ekonomi, destinasi wisata, atau objek investasi. Borobudur adalah sumber pengetahuan, inspirasi peradaban, dan ruang pembelajaran budaya yang harus terus dihidupkan melalui tradisi, pendidikan, penelitian, dan keterlibatan masyarakat.

Karena itu, tantangan terbesar Borobudur saat ini bukan sekadar meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan, melainkan memperkuat proses pewarisan nilai kepada generasi muda.

Di sinilah Gerakan Ruwat Rawat Borobudur menemukan relevansinya. Selama dua puluh empat tahun, gerakan ini berupaya menjaga agar Borobudur tidak hanya lestari sebagai bangunan fisik, tetapi juga tetap hidup sebagai sumber nilai, pengetahuan, dan kebijaksanaan.

Sebab pada akhirnya, masa depan Borobudur tidak akan ditentukan oleh banyaknya orang yang memanfaatkannya, melainkan oleh banyaknya orang yang bersedia menjadi pewaris dan penjaga nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.

Ketika pemanfaatan ekonomi berjalan seiring dengan pewarisan nilai, Borobudur akan tetap menjadi monumen hidup yang memberi manfaat sekaligus makna. Namun ketika semua orang hanya berlomba memanfaatkannya, sementara pewarisan nilai diabaikan, maka yang tersisa hanyalah bangunan megah yang perlahan kehilangan ruh peradabannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *