Popular Posts

MBAH BELET, KESEMPURNAAN YANG TAK HARUS DIRABA

Katup Belum Tentu Menjadi Penutup, Kesempurnaan Belum Tentu Hadir Melalui Penyempurnaan Bentuk

Redaksi Sekolah Kehidupan

Sabtu malam, 26 September 2026, saya duduk bermeditasi di halaman Candi Borobudur. Malam itu suasana terasa berbeda. Lampu penerangan yang begitu terang menyala, membasuh tubuh candi dengan cahaya. Pada saat yang sama, Yasti atau puncak stupa induk sedang dalam proses restorasi. Pancaknya tampak menjulang ke langit malam, seolah mengingatkan bahwa bahkan sebuah mahakarya dunia pun terus mengalami perawatan, penafsiran, dan penyempurnaan dari zaman ke zaman.

Di dekat tempat saya bermeditasi berdiri sosok yang sering luput dari perhatian banyak orang: Mbah Belet.

Saya memandangnya cukup lama. Semakin lama memandang, semakin banyak pertanyaan yang muncul. Mengapa ia dibiarkan tidak selesai? Mengapa bentuknya berbeda? Mengapa justru ketidaklengkapan itu dipertahankan hingga hari ini?

Di hadapan Mbah Belet, kita berjumpa dengan sebuah wujud yang oleh banyak orang dianggap “belum selesai”. Wajahnya tidak terukir sempurna. Bentuknya tidak serapi arca-arca lainnya. Dari sudut pandang tertentu, selalu muncul keinginan untuk melengkapinya, memperbaikinya, merapikannya, atau menghiasinya agar tampak lebih pantas.

Kain kuning melingkar di tubuhnya. Kain putih melilit di bagian bawahnya. Tentu ada niat baik di sana. Ada rasa hormat, kasih sayang, dan keinginan untuk memuliakan. Namun sebuah pertanyaan muncul dalam batin:

Apakah penghormatan selalu harus diwujudkan dengan menambahkan sesuatu pada wujud yang telah ada?

Dalam kehidupan Jawa dikenal ajaran dugo, prayogo, roso rumongso. Semuanya bermuara pada kepantasan. Namun pantas tidak selalu berarti seragam. Pantas tidak selalu berarti sama dengan yang lain. Pantas adalah kesesuaian dengan hakikatnya.

Mbah Belet hadir membawa pesan yang berbeda dari arca-arca lain di Borobudur. Ia hadir sebagai simbol perjalanan yang belum selesai. Sebuah pengingat bahwa proses merupakan bagian penting dari kehidupan.

Ketika kita memakaikannya atribut yang sama dengan arca lain, jangan-jangan kita sedang menutupi pesan yang justru ingin disampaikannya. Seolah-olah kita kurang nyaman dengan ketidaksempurnaannya. Seolah-olah segala sesuatu harus tampak lengkap agar dianggap bernilai.

Padahal mungkin yang ingin diajarkan Mbah Belet justru sebaliknya.

Bahwa yang belum selesai belum tentu kurang.

Bahwa yang berbeda belum tentu salah.

Bahwa yang tidak sempurna belum tentu kehilangan kemuliaannya.

Kain itu tidak salah. Niatnya baik. Namun pertanyaan yang lebih penting adalah:

Sudahkah kita memahami siapa yang sedang kita hormati?

Jika Mbah Belet merupakan penanda proses yang belum selesai, maka ketidaksempurnaannya itulah yang sesungguhnya harus dipahami. Sebab tidak semua yang terbuka harus ditutup. Tidak semua yang belum lengkap harus dilengkapi.

Katup belum tentu menjadi penutup.

Kadang sebuah katup justru berfungsi sebagai pengingat bahwa masih ada ruang untuk memahami lebih dalam. Masih ada ruang untuk merenung. Masih ada ruang untuk bertanya.

“ Weling mBah Belet dan tuntutan penyempurnaan Borobudur “

Borobudur sejak dekade 1980-an terus mengalami berbagai perubahan. Perubahan itu lahir dari beragam pemikiran, penelitian, kepentingan, dan tafsir yang jumlahnya mungkin mencapai ribuan.

Bagi para ilmuwan, arkeolog, perencana, pengelola, maupun para pemerhati warisan budaya, perubahan tersebut sering dipandang sebagai bagian dari upaya penyempurnaan. Borobudur seakan masih memiliki ruang yang perlu dibenahi, dilengkapi, dipulihkan, dan disesuaikan dengan kebutuhan zaman.

Dari waktu ke waktu lahirlah berbagai gagasan dan rencana. Ada yang berangkat dari kepentingan pelestarian. Ada yang menitikberatkan pada perlindungan. Ada pula yang berangkat dari pemanfaatan dan pengembangan kawasan. Semuanya memiliki niat baik untuk menjaga keberlanjutan Borobudur.

Namun di tengah arus perubahan itu, Mbah Belet seolah menghadirkan sebuah weling.

Ia berdiri diam. Tidak sempurna menurut ukuran bentuk. Tidak lengkap menurut ukuran tertentu. Tetapi justru karena itulah ia bertahan melintasi zaman.

Kehadirannya seperti mengajukan pertanyaan yang tidak pernah selesai dijawab:

Apakah setiap yang belum lengkap harus dilengkapi?

Apakah setiap ruang kosong harus diisi?

Apakah setiap yang berbeda harus dibuat seragam?

Pertanyaan ini bukan untuk menolak ilmu pengetahuan. Bukan pula untuk mengabaikan hasil penelitian. Justru pertanyaan ini mengajak kita merenungkan batas antara memahami dan menyempurnakan.

Mbah Belet yang tidak selesai dipahat tetap dipertahankan hingga hari ini. Ketidaksempurnaannya tidak dianggap sebagai kekurangan yang harus dihapus, melainkan sebagai bagian dari sejarah dan pesan yang diwariskan.

Ia menjadi saksi bahwa dalam kebudayaan, tidak semua nilai lahir dari sesuatu yang utuh. Kadang justru yang belum selesai menyimpan pelajaran yang paling dalam.

Dari sudut pandang itulah saya memandang berbagai gagasan penyempurnaan Borobudur.

Pertanyaannya bukan sekadar apakah sesuatu dapat dilakukan.

Melainkan apakah sesuatu perlu dilakukan.

Apakah penyempurnaan bentuk akan selalu memperkaya makna?

 Dan apakah penyempuaan tersebut sudah menjawab PANTAS DAN TIDAK PANTAS ?

Ataukah dalam kondisi tertentu, membiarkan jejak sejarah apa adanya justru menjadi bentuk penghormatan yang lebih mendalam?

Wadi Kang Sinengker

Di sinilah saya teringat pada makna wadi kang sinengker.

Wadi kang sinengker bukan sekadar rahasia yang disembunyikan. Ia adalah kebijaksanaan yang hanya dapat dipahami melalui laku, perenungan, dan kepekaan rasa.

Wadi itu mengajarkan bahwa:

  • Yang belum selesai belum tentu kurang.
  • Menghormati tidak selalu berarti mengubah.
  • Merawat tidak selalu berarti menyesuaikan dengan selera kita.
  • Mencintai berarti menerima apa adanya, bukan memaksanya menjadi seperti yang kita inginkan.

Barangkali mereka yang memahami wadi kang sinengker tentang Borobudur bukanlah mereka yang sibuk melengkapi segala sesuatu sampai kehilangan maknanya.

Melainkan mereka yang mampu membiarkan sebagian hal tetap berbicara melalui keasliannya.

Sebagai pewaris Borobudur, tugas kita bukan sekadar menjaga batu-batunya.

Tugas yang lebih besar adalah menjaga makna yang dikandungnya.

Menyempurnakan Mbah Belet bukan berarti menyelesaikan pahatan yang belum selesai.

Bukan pula memakaikannya atribut agar tampak sama dengan yang lain.

Menyempurnakan berarti memahami.

Menyempurnakan berarti menghormati pesan yang diwariskannya.

Menyempurnakan berarti membiarkannya tetap menjadi saksi perjalanan yang belum usai.

Menyempurnakan berarti mewariskan kepada anak cucu bahwa kehidupan tidak selalu berbicara tentang hasil akhir, tetapi juga tentang proses yang dijalani dengan kesadaran.

Kain kuning dan putih yang melilitnya hari ini mungkin lahir dari kasih sayang.

Namun kasih sayang yang lebih dalam adalah memberi ruang bagi Mbah Belet untuk tetap menjadi dirinya sendiri.

Biarkan ia berbicara melalui ketidaksempurnaannya.

Biarkan orang yang datang bertanya:

“Mengapa ia belum selesai?”

Karena dari pertanyaan itulah pengetahuan lahir.

Dari pertanyaan itulah kesadaran tumbuh.

Dan dari pertanyaan itulah pewarisan nilai dapat berlangsung.

Mungkin inilah wadi kang sinengker yang sesungguhnya:

Kesempurnaan bukan ketika semuanya telah selesai. Kesempurnaan adalah ketika kita mampu menghormati yang belum selesai, memahami yang belum sempurna, dan merawatnya tanpa kehilangan makna yang diwariskannya.

Borobudur telah berhasil dipugar.

Namun pewarisannya belum tentu berhasil.

Mbah Belet seolah terus mengingatkan kita bahwa warisan terbesar bukanlah batu yang disempurnakan, melainkan kebijaksanaan untuk memahami apa yang diwariskan oleh batu-batu itu.

Dan mungkin, di situlah letak kesempurnaan yang sesungguhnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *