Popular Posts

BOROBUDUR LEBIH DARI BATU: MERAWAT WARISAN,MENYALAKAN NILAI, DAN MENUMBUHKAN KESDARAN BERSAMA

Webinar ke-9 yang diselenggarakan pada Jumat, 10 April 2026, dalam rangka 24 tahun Ruwat Rawat Borobudur, berlangsung hingga pukul 21.30 WIB dan diikuti oleh 97 peserta. Kegiatan ini menghadirkan narasumber Lasmito Adisasana, Ragil Sholeh, serta Kelik Fahrurozi. Hadir sebagai penanggap Para Peneliti Senior BRIN . Perwakilan ICOMOS Indonesia Mr Gata BPK 10 .juga dari Komunitas Kandang Kebo  

Diskusi yang berlangsung tidak sekadar menjadi forum berbagi gagasan, tetapi juga menghadirkan refleksi mendalam: Candi Borobudur bukan hanya susunan batu atau situs sejarah yang berdiri megah di lanskap Jawa. Lebih dari itu, ia merupakan ruang hidup yang memuat nilai-nilai luhur, yang sejak awal terbentuk melalui proses akulturasi antara budaya lokal dan nilai-nilai universal kemanusiaan.

Nilai Yang Harus Dihidupkan

Dalam pemaparannya, Lasmito menekankan bahwa pelestarian Borobudur tidak boleh berhenti pada aspek fisik semata. Tantangan terbesar justru terletak pada bagaimana nilai-nilai yang terkandung di dalamnya dapat terus hidup dan diteruskan. Edukasi kepada masyarakat, khususnya yang berada di sekitar kawasan Borobudur, menjadi kunci untuk menumbuhkan rasa memiliki, semangat berkarya, serta kesadaran untuk menjaga warisan budaya ini.

Borobudur, dalam hal ini, perlu dipahami sebagai sumber inspirasi yang mampu membentuk karakter dan kesadaran kolektif, bukan sekadar objek wisata atau peninggalan masa lalu yang diam.

Tanggung Jawab Kultural Yang Kolektif

Ragil Sholeh dalam diskusi tersebut menegaskan bahwa merawat Borobudur adalah tanggung jawab kultural bersama. Perspektif ini mengajak kita untuk melihat Borobudur sebagai bagian dari sistem kehidupan yang utuh yang menghubungkan manusia, alam, dan dimensi spiritual.

Nilai-nilai universal yang terkandung di dalamnya tidak hanya relevan untuk konteks sejarah, tetapi juga menjadi landasan dalam membangun kehidupan masyarakat hari ini—baik dalam pengelolaan desa, ruang publik, maupun dalam memaknai arah peradaban ke depan.

Sinergi Sebagai Kunci Keberlanjutan

Diskusi juga menyoroti tiga pilar utama dalam pengelolaan warisan budaya, yaitu pelestarian, perlindungan, dan pemanfaatan. Namun, ketiga hal tersebut tidak akan berjalan optimal tanpa adanya sinergi yang kuat antar pemangku kepentingan.

Koordinasi dan komunikasi menjadi kunci penting dalam memastikan bahwa setiap langkah yang diambil berjalan selaras, berkelanjutan, dan tetap berpijak pada nilai-nilai yang dijaga bersama.

Menjaga Lebih Dari Sekedar Warisan

Semangat yang lahir dari webinar ini mengingatkan kita bahwa menjaga Borobudur bukan hanya tentang melindungi fisik bangunan, tetapi juga tentang merawat identitas, menghormati keseimbangan alam, serta meneruskan nilai-nilai luhur kepada generasi mendatang.

Borobudur bukan sekadar peninggalan masa lalu. Ia adalah cermin kesadaran yang mengajak kita untuk terus belajar, merawat, dan menghidupkan makna di setiap zaman.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *