1
1
1
2
3
4
5
Borobudur bukan sekadar tumpukan andesit atau destinasi wisata super prioritas. Sebagai World Heritage UNESCO, ia menyandang Outstanding Universal Value (OUV)—sebuah nilai luhur yang melampaui batas geografis, bangsa, hingga sekat agama. Namun, realitas hari ini menunjukkan kecenderungan yang kontradiktif: Borobudur kian ditarik ke dalam pusaran logika “bisnis” yang melulu mengacu pada untung-rugi. Padahal, jika merunut sejarah pendiriannya, situs ini tegak berdiri demi kepentingan spiritualitas dan kesadaran batin manusia.
Selama empat dekade, Borobudur dikelola oleh Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di bawah payung undang-undang. Namun pada faktanya, mewujudkan keseimbangan antara pelestarian nilai sejarah-spiritual dengan tuntutan pengelolaan ekonomi bukanlah perkara mudah. Ketimpangan ini akhirnya memicu pertanyaan kritis: Borobudur sebenarnya milik siapa?
Komodifikasi yang berlebihan berisiko mereduksi “monumen kesadaran” ini menjadi sekadar properti ekonomi atau alat legitimasi kelompok. Ketika warisan peradaban dibatasi oleh ambisi finansial dan ego birokrasi, kejernihan nilai universalnya terpolusi mengubah titik temu lintas identitas menjadi simbol eksklusivitas yang memisahkan.
Webinar ini hadir sebagai ruang refleksi untuk menggugat kembali cara pandang kita dalam memperlakukan warisan budaya, yang saat ini dipandang sebagai “ruang tafsir terbuka” yang belum terkelola dengan semestinya. Melalui diskusi ini, kita diajak membedah tanggung jawab kolektif dalam menjaga esensi Borobudur agar tetap jernih. Sebab, Borobudur akan tetap agung selama ia dibiarkan universal, namun ia akan kehilangan jiwanya saat dipaksa menjadi komoditas yang eksklusif.
Tujuan Webinar:
Webinar Series akan diselenggarakan besuk :
Hari / Tanggal : Jumat 10 April 2026
Pukul : 19.00 WIB
Metode : Link Zoom menyusul