1
1
1
2
3
4
5
Ketika ruang publik pariwisata tak lagi cukup ditopang oleh bantuan, lahirlah dorongan untuk membangun kemandirian berbasis kolaborasi.
Borobudur 25 Maret 2026 : Wawancara dengan Mbak Cemplon membuka satu lapisan lain dari dinamika yang tengah dihadapi pelaku wisata dan ekonomi lokal di kawasan Borobudur. Di balik berbagai program dan narasi besar yang selama ini bergulir, tersimpan persoalan mendasar: keterbatasan sumber daya manusia yang mampu bergerak secara konsisten, sekaligus kebutuhan akan sistem yang lebih realistis dalam menopang kerja-kerja pengembangan kawasan.
Dalam penuturannya, ia menggambarkan situasi yang tidak mudah. Banyak pihak yang sebenarnya memiliki kapasitas dan pengalaman, namun telah disibukkan oleh usaha masing-masing. Dalam kondisi seperti itu, kerja-kerja berbasis sukarela menjadi sulit dipertahankan. Waktu bukan lagi sekadar ruang luang, melainkan telah menjadi bagian dari nilai ekonomi yang tidak bisa diabaikan.
Kondisi ini semakin terasa berat ketika dukungan atau pendampingan dari pihak luar, termasuk pemerintah, tidak lagi hadir secara utuh atau berkelanjutan. Ada kesan bahwa pelaku di lapangan harus berjalan sendiri, meraba arah di tengah ketidakpastian.
Dari situ, muncul sebuah cara pandang baru yang mulai mengemuka: perlunya pergeseran pola dari ketergantungan pada pendampingan menuju pembangunan sistem yang mandiri dan saling menguntungkan. Bukan lagi mengandalkan relawan, tetapi membangun kemitraan profesional yang memiliki dasar ekonomi yang jelas.
Gagasan ini menempatkan para pelaku bukan sebagai “peserta program”, melainkan sebagai mitra bisnis. Dalam skema ini, pengelolaan pemasaran kawasan—termasuk promosi digital—dipandang sebagai sebuah proyek yang harus menghasilkan. Hasil dari aktivitas tersebut, seperti peningkatan kunjungan atau penjualan produk UMKM, kemudian dapat dialokasikan kembali untuk membiayai operasional dan memberikan imbalan yang layak bagi tim yang bekerja di dalamnya.
Salah satu bentuk yang muncul dalam wacana ini adalah kemungkinan pembentukan wadah bersama, seperti koperasi atau badan usaha kolektif. Melalui sistem tersebut, para pelaku usaha dapat berkontribusi dalam bentuk iuran atau persentase tertentu, yang kemudian dikelola untuk mendukung kerja pemasaran secara profesional. Dengan begitu, keberlanjutan tidak lagi bergantung pada bantuan, melainkan pada sistem yang dibangun bersama.
Di sisi lain, kekuatan yang sebenarnya sudah dimiliki oleh para pelaku lokal juga mulai disadari. Banyak di antara mereka yang telah memiliki usaha sendiri, termasuk paket wisata yang telah berjalan jauh sebelum program-program formal hadir. Potensi ini dipandang sebagai “kendaraan” yang bisa langsung digunakan, tanpa harus memulai dari nol.
Melalui pendekatan ini, pelaku usaha dapat saling terhubung. Produk UMKM, kuliner lokal, hingga destinasi di sekitar dapat diintegrasikan dalam satu rangkaian paket wisata. Dengan demikian, setiap upaya pemasaran yang dilakukan tidak hanya menguntungkan satu pihak, tetapi turut mengangkat ekosistem secara keseluruhan.
Selain itu, muncul pula kesadaran akan pentingnya melibatkan generasi muda. Di tengah keterbatasan waktu para pelaku senior, anak-anak muda yang akrab dengan dunia digital dinilai memiliki potensi besar untuk mengambil peran sebagai pelaksana teknis mulai dari produksi konten hingga pengelolaan media sosial. Sementara itu, para pelaku berpengalaman dapat berperan sebagai pengarah strategi, memastikan bahwa langkah yang diambil tetap berada di jalur yang tepat.
Ketika jalur dukungan formal dirasa belum cukup, opsi kolaborasi dengan pihak lain di luar pemerintah juga mulai dipertimbangkan. Dunia usaha melalui program tanggung jawab sosial, serta institusi pendidikan dengan program pengabdian masyarakat, dinilai dapat menjadi mitra alternatif yang membuka ruang baru bagi penguatan kapasitas tanpa harus sepenuhnya bergantung pada satu sumber.
Pada akhirnya, apa yang disampaikan Mbak Cemplon bukan sekadar keluhan, melainkan refleksi yang mengarah pada solusi. Ada kesadaran bahwa situasi yang dihadapi memang tidak mudah, tetapi juga tidak tanpa jalan keluar. Justru dari keterbatasan itu, muncul dorongan untuk membangun kekuatan dari dalam—mengandalkan apa yang sudah dimiliki, dan merajutnya menjadi sistem yang lebih kokoh.
Pertanyaannya kini bukan lagi siapa yang akan datang membantu, tetapi sejauh mana para pelaku di kawasan Borobudur mampu duduk bersama, menyatukan langkah, dan membangun wadah kolektif yang berbasis pada kemandirian. Di situlah mungkin, masa depan pariwisata yang lebih berkeadilan perlahan bisa menemukan bentuknya.
Top of Form