1
1
Borobudur Kamis 26 Maret 2026 : Di tengah derasnya arus modernisasi yang perlahan mengubah wajah kawasan Borobudur, sebuah rumah tua sederhana di Dusun Janan masih berdiri tegak, seolah menolak lupa pada akar sejarahnya. Rumah tersebut milik Bapak Ismutoyo, seorang purna wirawan Polri, yang hingga kini tetap setia menjaga warisan leluhur yang sarat nilai budaya.
Berjarak sekitar empat meter dari kaki Candi Borobudur ke arah utara, tepatnya di RT 3 RW 2 Dusun Janan, rumah ini menjadi saksi bisu perjalanan waktu. Dibangun dengan gaya arsitektur tradisional Jawa kuno berbentuk limasan, rumah berukuran kurang lebih 9 x 10 meter ini mencerminkan karakter hunian masyarakat masa lampau yang sederhana, fungsional, namun penuh filosofi.
Di tengah anggapan sebagian orang bahwa rumah Jawa kuno kini “ketinggalan zaman”, bangunan ini justru menyimpan ingatan kolektif warga. Bagi masyarakat sekitar yang kini berusia di atas 65 tahun, rumah milik Bapak Ismutoyo bukanlah bangunan asing. Mereka mengenangnya sebagai ruang yang pernah hidup dan berfungsi bagi kepentingan bersama. Pada sekitar tahun 1960-an, rumah ini pernah digunakan sebagai Sekolah Rakyat Borobudur 2 (SR 2), menjadi tempat belajar generasi masa itu dalam menapaki masa depan.
Bangunan tersebut bukan sekadar tempat tinggal, melainkan warisan turun-temurun yang memiliki garis sejarah panjang. Rumah ini berasal dari almarhum Bapak Warto Senjoyo, yang sebelumnya menerima warisan dari Eyang Putri Sosro Senjoyo, dan terus ditarik ke generasi sebelumnya, yakni Simbah Martosenjoyo. Rantai pewarisan ini menegaskan bahwa rumah tersebut bukan hanya benda fisik, tetapi juga bagian dari identitas keluarga yang dijaga lintas generasi.
Secara visual, rumah ini menampilkan ciri khas arsitektur Jawa tradisional: struktur kayu yang kokoh, pintu-pintu lebar berderet, serta atap genteng yang melengkung mengikuti bentuk limasan sederhana. Teras luas di bagian depan menjadi ruang sosial yang dahulu berfungsi sebagai tempat berkumpul, menerima tamu, hingga ruang interaksi antarwarga.
Namun, keberadaan rumah seperti ini kini semakin langka di lingkungan sekitar Borobudur. Banyak bangunan telah bertransformasi menjadi rumah modern, homestay, atau fasilitas wisata yang menyesuaikan kebutuhan zaman. Meski beberapa penginapan mencoba mengadopsi gaya rumah Jawa kuno, tidak banyak yang benar-benar berasal dari warisan asli masyarakat sekitar candi.
“Rumah seperti ini sekarang sudah jarang sekali. Kebanyakan sudah direnovasi atau diganti bangunan baru,” ungkap salah satu warga setempat. Kondisi ini menjadi ironi tersendiri di kawasan yang justru dikenal sebagai pusat warisan budaya dunia.
Upaya yang dilakukan keluarga Bapak Ismutoyo dalam menjaga keaslian rumah ini patut diapresiasi. Di tengah tekanan ekonomi dan perkembangan pariwisata, mempertahankan bangunan lama bukanlah perkara mudah. Dibutuhkan komitmen, kesadaran budaya, serta rasa tanggung jawab terhadap sejarah.
Lebih dari sekadar bangunan, rumah ini adalah representasi kehidupan masyarakat Borobudur di masa lalu tentang cara mereka membangun, hidup, dan memaknai ruang. Ia menjadi pengingat bahwa pelestarian budaya tidak selalu harus dalam bentuk besar dan megah, tetapi juga bisa dimulai dari menjaga yang kecil, yang dekat, dan yang diwariskan.
Di bawah bayang-bayang kemegahan Candi Borobudur, rumah tua ini berdiri tenang. Ia mungkin tidak setinggi stupa, namun menyimpan nilai yang tak kalah dalam—tentang akar, tentang ingatan, dan tentang keberlanjutan budaya yang seharusnya tetap hidup di tanahnya sendiri.
Sucoro Setrodiharjo