Popular Posts

Kelik Fachrurrozi Pelopor Pemandu Wisata & Pengamat Pariwisata

Dalam Webinar ke-9
24 Tahun Ruwat Rawat Borobudur

Tema: “Borobudur Milik Siapa?”

Saya memulai perjalanan saya di kawasan Taman Wisata Borobudur sejak tahun 1983. Saat itu saya bekerja sebagai anggota satpam di Taman Wisata Candi Borobudur  selama kurang lebih enam tahun, ketika direktur utamanya adalah Bapak Budi Harjo. Jika dihitung sampai sekarang, keterlibatan saya dengan Borobudur sudah mencapai sekitar 46 tahun. Pada tahun 1989, saya mengundurkan diri—lebih tepatnya diminta untuk mengundurkan diri. Sejak saat itu, saya beralih sepenuhnya menekuni profesi sebagai pemandu wisata, meskipun sebenarnya sejak 1986 saya sudah merintis pekerjaan tersebut secara bersamaan.

Waktu itu saya menjalani kehidupan yang bisa dibilang “rangkap”: menjadi satpam, masih sekolah di SMA, sekaligus mulai menjadi pemandu wisata. Sertifikat pemandu yang saya peroleh pun ditandatangani langsung oleh Gubernur Jawa Tengah saat itu, Bapak Ismail. Dari situlah perjalanan saya di dunia pariwisata terus berkembang.

Namun, seiring waktu, saya melihat ada perubahan dalam pengelolaan kawasan wisata Borobudur, khususnya terkait arus pengunjung. Wisatawan diarahkan melalui jalur-jalur tertentu, bahkan seolah “digiring” melewati pintu-pintu tertentu agar melewati deretan kios atau pasar. Tujuannya mungkin baik, agar semua pedagang mendapatkan kesempatan. Tetapi dalam praktiknya, wisatawan justru kelelahan. Setelah turun dari candi, mereka cenderung ingin segera mencari kendaraan mobil atau bus dan keluar dari kawasan, tanpa sempat menikmati atau berinteraksi lebih jauh.

Pasar yang berlapis-lapis, luas, dan padat justru membuat pengalaman wisata menjadi melelahkan. Akibatnya, waktu wisatawan habis di dalam pagar, sementara di luar pagar hampir tidak mendapatkan apa-apa. Dari pengamatan saya, pariwisata Borobudur masih sangat terfokus di dalam kawasan berpagar. Sementara masyarakat di luar pagar hanya menjadi penonton.

Beberapa aktivitas di luar pagar memang ada, seperti wisata VW. Namun, itu pun berjalan karena sistem pemesanan daring (online), bukan karena interaksi langsung di lokasi. Para pelaku usaha tersebut sudah memiliki jaringan sendiri, bahkan seringkali sudah dipesan jauh hari sebelumnya. Jadi, bukan wisatawan yang datang lalu mencari, melainkan sudah ada perjanjian sebelumnya.

Di sisi lain, pedagang kecil di luar pagar hampir tidak memiliki peluang. Tidak ada arus wisatawan yang keluar, sehingga tidak ada yang bisa mereka tawari. Bahkan jumlah wisatawan yang keluar ke area luar pagar bisa dikatakan sangat kecil, mungkin tidak sampai satu persen. Kalaupun ada, biasanya wisatawan yang menggunakan kendaraan pribadi atau mobil kecil dari Yogyakarta, yang memilih parkir di luar karena aksesnya lebih dekat.

Melihat kondisi ini, saya merasa perlu menyampaikan bahwa pembangunan pariwisata di Borobudur belum sepenuhnya berhasil dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar. Idealnya, pariwisata itu menciptakan efek berganda (multiplier effect), yang manfaatnya dirasakan luas oleh masyarakat, bukan hanya oleh mereka yang berada di dalam sistem atau di dalam pagar.

Jika kita bandingkan dengan Keraton Yogyakarta, wisatawan di sana menyebar ke berbagai sudut kota, berbaur dengan masyarakat, sehingga ekonomi bergerak lebih merata. Sementara di Candi Borobudur maupun Candi Prambanan, pola yang terjadi cenderung sama: wisatawan terkonsentrasi di dalam kawasan berpagar.

Berbeda lagi jika kita melihat kawasan seperti Gunung Bromo atau Kawah Ijen, di mana wisatawan cenderung menyebar dan berinteraksi lebih luas dengan lingkungan sekitar. Di sana, meskipun tidak sepenuhnya merata, tetapi ada ruang bagi masyarakat untuk ikut terlibat.

Karena itu, saya berharap ke depan ada perbaikan dalam sistem pengelolaan. Perlu dipikirkan bagaimana membuka akses, mengatur arus, dan menciptakan ruang interaksi agar masyarakat sekitar benar-benar bisa menikmati hasil dari pembangunan pariwisata.

Sebagai pemandu wisata, pengalaman saya tidak hanya di Borobudur, tetapi juga melintasi Pulau Jawa hingga Bali dalam perjalanan overland. Dari pengalaman tersebut, saya semakin meyakini bahwa Borobudur adalah bangunan universal. Ia bukan milik satu kelompok, melainkan milik semua. Sejak awal dibangun, Borobudur diperuntukkan bagi rakyat dan sudah seharusnya manfaatnya kembali kepada rakyat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *