1
1
1
2
3
4
5
Oleh Sucoro Setrodiharjo
Di balik megahnya Candi Borobudur yang menjadi kebanggaan dunia, ada catatan-catatan kecil yang jarang terbaca. Catatan yang tidak tertulis di prasasti, tidak terpahat di relief, tetapi hidup dalam ingatan dan pengalaman masyarakat di sekitarnya—terutama mereka yang berada di pinggir.
Bagi sebagian orang, Borobudur adalah simbol kejayaan peradaban. Tempat wisata, pusat spiritualitas, dan sumber ekonomi. Namun bagi sebagian yang lain, Borobudur adalah ruang yang semakin menjauh. Mereka hidup di dekatnya, tetapi tidak selalu merasa memiliki.
Orang-orang di pinggir ini bukan tidak melihat perubahan. Mereka justru menjadi saksi paling dekat. Jalan diperlebar, kawasan ditata, aturan diperketat, dan aktivitas diatur sedemikian rupa. Semua dilakukan atas nama kebaikan: pelestarian, ketertiban, dan peningkatan kualitas destinasi.
Namun dalam proses itu, tidak semua ikut terangkat.
Sebagian justru tersisih secara perlahan. Ruang usaha menyempit, akses dibatasi, dan peran mereka semakin tidak terlihat. Mereka tetap ada, tetapi tidak lagi menjadi bagian utama dari cerita besar yang dibangun.
Dari situlah lahir cara pandang yang berbeda.
Bagi orang pinggiran, Borobudur bukan sekadar bangunan batu. Ia adalah ruang hidup yang penuh dinamika. Tempat mereka tumbuh, bekerja, dan berharap. Ketika ruang itu berubah tanpa keterlibatan mereka, yang muncul bukan hanya kesulitan, tetapi juga rasa kehilangan.
Mereka lalu belajar membaca keadaan—sinau maca kahanan. Belajar memahami bahwa tidak semua kebijakan benar-benar hadir untuk mereka. Belajar membedakan antara janji dan kenyataan. Dan belajar menerima bahwa suara mereka tidak selalu didengar.
Namun bukan berarti mereka diam.
Catatan pinggir justru sering kali lebih jujur. Ia tidak dibungkus oleh bahasa resmi. Ia lahir dari percakapan sehari-hari, dari obrolan di warung, dari keluhan yang disampaikan dengan sederhana. Di situlah realitas yang sebenarnya tersimpan.
Mereka tahu bahwa kritik sering kali dianggap sebagai gangguan. Bahwa mempertanyakan kebijakan bisa dipahami sebagai bentuk perlawanan. Karena itu, mereka memilih cara-cara yang lebih halus. Bukan untuk menyerah, tetapi untuk tetap bertahan.
Yang menjadi persoalan adalah ketika jarak antara kebijakan dan kehidupan semakin lebar.
Ketika keputusan diambil tanpa benar-benar memahami kondisi di bawah. Ketika masyarakat hanya dilibatkan sebagai formalitas. Dan ketika keberhasilan diukur dari tampilan luar, bukan dari perubahan yang dirasakan.
Dalam situasi seperti ini, orang-orang di pinggir memiliki pelajaran penting: bahwa hidup tidak bisa sepenuhnya bergantung pada kebijakan. Mereka bertahan dengan cara mereka sendiri. Dengan solidaritas, dengan kebersamaan, dan dengan pengetahuan lokal yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Mereka mungkin tidak memiliki ruang besar untuk berbicara, tetapi mereka memiliki pengalaman yang tidak bisa diabaikan.
Catatan pinggir ini bukan untuk menolak pembangunan. Bukan pula untuk melawan perubahan. Tetapi untuk mengingatkan bahwa di balik setiap kebijakan, ada manusia yang merasakan dampaknya secara langsung.
Bahwa pelestarian tidak boleh mengorbankan kehidupan. Bahwa kemajuan tidak boleh meninggalkan mereka yang paling dekat dengan akar budaya itu sendiri.
Dan bahwa Borobudur, sejatinya, bukan hanya milik dunia—tetapi juga milik mereka yang hidup dan bertahan di sekitarnya.