1
1
Oleh sucoro Setrodiharjo
Ada hal-hal yang tidak tercatat dalam buku resmi, tetapi justru lebih jujur dalam menyimpan kebenaran. Ia tidak dicetak rapi, tidak dibingkai indah, bahkan sering dianggap sepele. Hanya berupa kertas lusuh—menguning dimakan waktu, terlipat di sana-sini, dan nyaris terlupakan. Namun di situlah jejak perjalanan panjang tersimpan.
Empat puluh tahun bukan waktu yang singkat. Dalam rentang itu, banyak kebijakan lahir dan berubah. Banyak janji diucapkan, banyak rencana dijalankan. Tetapi bagi mereka yang hidup di sekitar Candi Borobudur, waktu tidak hanya diukur dari perubahan fisik, melainkan dari pengalaman yang terus berulang.
Kertas-kertas lusuh itu adalah saksi.
Ia mencatat suara yang tidak selalu terdengar. Catatan rapat sederhana, coretan tuntutan, daftar harapan, hingga keluhan yang ditulis dengan bahasa apa adanya. Tidak selalu rapi, tidak selalu sistematis, tetapi penuh makna. Karena setiap goresannya lahir dari pengalaman nyata.
Belajar membaca kertas lusuh bukan sekadar membaca tulisan. Ia adalah upaya memahami perjalanan. Menghubungkan masa lalu dengan masa kini. Menyadari bahwa apa yang terjadi hari ini sering kali memiliki akar yang panjang.
Di dalamnya, tersimpan cerita tentang perjuangan. Tentang masyarakat yang berusaha bertahan di tengah perubahan. Tentang ruang hidup yang perlahan bergeser. Dan tentang harapan yang tidak selalu menemukan jalannya.
Yang menarik, banyak dari isi kertas itu masih terasa relevan hingga sekarang.
Pertanyaan yang sama muncul kembali. Keluhan yang serupa masih terdengar. Bahkan harapan yang dulu ditulis dengan penuh keyakinan, sebagian masih menggantung tanpa kepastian. Seolah waktu berjalan, tetapi persoalan berputar di lingkaran yang sama.
Di sinilah kita belajar sesuatu yang penting: bahwa kebijakan tidak selalu menyelesaikan masalah. Kadang ia hanya mengubah bentuknya. Kadang ia justru menunda tanpa benar-benar menjawab.
Kertas lusuh itu menjadi pengingat bahwa ada hal-hal yang belum selesai.
Namun, belajar dari kertas lusuh bukan berarti terjebak pada masa lalu. Justru sebaliknya. Ia memberi kita cara untuk melihat dengan lebih jernih. Untuk tidak mudah percaya pada narasi yang terlalu indah. Untuk berani bertanya: apa yang benar-benar berubah?
Bagi masyarakat di pinggir, membaca kertas lusuh adalah bagian dari sinau maca kahanan. Belajar memahami bahwa pengalaman adalah guru yang paling setia. Bahwa ingatan kolektif adalah kekuatan yang tidak mudah dihapus.
Di tengah arus perubahan yang cepat, kertas itu mungkin terlihat tidak berarti. Tetapi justru di sanalah letak nilainya. Ia tidak mengikuti kepentingan sesaat. Ia tidak menyesuaikan diri dengan kekuasaan. Ia hanya menyimpan apa adanya.
Empat puluh tahun mungkin telah berlalu. Kertas itu mungkin semakin rapuh. Tetapi maknanya justru semakin kuat.
Karena selama masih ada yang mau membaca, masih ada yang mau mengingat, dan masih ada yang mau belajar kertas lusuh itu tidak pernah benar-benar usang.
Ia tetap hidup. Sebagai pengingat. Sebagai pelajaran. Dan sebagai cermin bagi perjalanan yang belum selesai.