1
1
1
2
3
4
5
Prepegan adalah tradisi masyarakat Jawa yang melintasi batas daerah. Di Borobudur sendiri, prepegan telah lama menjadi bagian tak terpisahkan dari persiapan menyambut Lebaran. Secara harfiah, istilah ini berasal dari bahasa Jawa “prepeg” yang berarti mendesak atau mepet.
Umumnya, tradisi ini dimulai sekitar 4 hingga 5 hari menjelang Idul Fitri. Ini adalah momen ketika pasar tradisional berubah menjadi “lautan manusia”. Suasananya bergemuruh, ramai, dan sesak, hingga sering kali memacetkan jalanan di sekitar pasar. Di hari-hari puncak (H-2 atau H-1), pedagang musiman pun bermunculan menjajakan janur ketupat, bunga ziarah (nyekar), hingga daging segar.
Lebih dari sekadar aktivitas ekonomi untuk meningkatkan pendapatan UMKM, prepegan adalah simbol kebersamaan dan antusiasme masyarakat dalam menyambut hari kemenangan.
Namun, ada yang terasa janggal pada Senin sore (16/03/2026) pukul 15.00 WIB di Pasar Borobudur. Memasuki H-4 Lebaran, yang seharusnya menjadi periode “panas-panasnya” orang berbelanja bumbu rendang hingga baju baru, suasana justru terasa sangat kontras. Deretan motor yang bisa parkir dengan sangat leluasa. Tumpukan kelapa dan barang dagangan yang sudah tertutup terpal sebelum waktunya. Lapak pedagang yang terlihat lengang dan sunyi.
Jika biasanya di H-4 pedagang hampir tidak punya waktu untuk sekadar duduk, sore itu pemandangannya berbeda. Terlihat seseorang duduk santai di atas motor di dekat dagangan pisang sebuah pemandangan yang menunjukkan penurunan intensitas pembeli secara drastis.
Ada sebuah ironi yang tertangkap kamera. Di tengah spanduk-spanduk iklan bumbu instan dan mi yang bersolek menyambut Lebaran, denyut nadi pasar justru melemah. Beberapa faktor kemungkinan menjadi pemicunya: Pergeseran Tren Belanja: Kepraktisan belanja online atau beralihnya masyarakat ke supermarket modern mulai menggeser eksistensi pasar tradisional. Faktor Ekonomi: Adanya kemungkinan daya beli masyarakat yang sedang melambat, sehingga warga lebih menahan diri dan hanya berbelanja kebutuhan pokok secukupnya.
Kondisi ini memicu pertanyaan besar: Apakah sepinya prepegan ini merata di seluruh sudut pasar, ataukah ini hanya fenomena sesaat di area depan saja? Yang jelas, ada pergeseran budaya yang sedang terjadi di depan mata kita.