1
1
Sebuah Tinjauan Kritis Sosial Budaya
Candi Borobudur sebuah bangunan batu yang selama berabad-abad menjadi penanda peradaban. Namun di balik kemegahannya, Borobudur tidak pernah menjadi makna yang tunggal. Ia adalah ruang tafsir yang terus diperebutkan: antara agama, negara, pariwisata, dan masyarakat lokal yang hidup di sekitarnya.
Secara resmi, Borobudur sering dipahami sebagai monumen Buddha terbesar di dunia. Narasi ini diperkuat sejak masa restorasi besar pada abad ke-20 oleh UNESCO dan pemerintah Indonesia. Ketika Borobudur ditetapkan sebagai situs warisan dunia pada tahun 1991, identitasnya semakin dilekatkan pada simbol universal Buddhisme dan warisan budaya global. Dalam narasi ini, Borobudur menjadi objek sejarah dan spiritualitas yang dilihat dari perspektif arkeologi dan agama formal.
Namun tafsir itu bukan satu-satunya. Di kalangan masyarakat Jawa, Borobudur sering dipahami sebagai bagian dari kosmologi lokal yang lebih tua sebuah mandala yang mencerminkan pandangan hidup Jawa tentang hubungan manusia, alam, dan jagat raya. Konsep seperti “kiblat papat lima pancer” , harmoni kosmis, hingga falsafah hidup seperti “memayu hayuning bawana” sering dibaca melalui struktur bertingkat Borobudur. Dalam pandangan ini, Borobudur bukan sekadar monumen Buddhis, melainkan representasi pengetahuan kosmologis masyarakat Nusantara.
Ketegangan tafsir mulai tampak ketika Borobudur masuk ke dalam logika modernitas dan industri pariwisata. Kawasan di sekitar candi diatur secara ketat oleh negara melalui pengelola seperti PT Taman Wisata Candi Borobudur. Borobudur berubah menjadi destinasi wisata global, tempat jutaan orang datang setiap tahun untuk berfoto, menikmati panorama, atau mengikuti agenda budaya. Dalam kerangka ini, Borobudur bukan lagi sekadar ruang spiritual atau kosmologis, tetapi juga komoditas ekonomi.
Di sinilah kritik sosial muncul. Sementara Borobudur dipromosikan sebagai warisan dunia, masyarakat desa di sekitarnya sering kali berada di pinggiran narasi besar itu. Banyak dari mereka yang dahulu hidup dekat dengan situs ini harus beradaptasi dengan regulasi kawasan wisata, bahkan mengalami pembatasan ruang hidup. Ironisnya, mereka yang secara historis paling dekat dengan Borobudur justru sering menjadi penonton dalam panggung besar pariwisata yang dibangun atas nama pelestarian.
Perebutan makna juga terjadi pada tingkat simbolik. Sebagian kalangan religius ingin menegaskan Borobudur sebagai pusat spiritual Buddhisme, sementara kelompok budaya melihatnya sebagai warisan kebijaksanaan Jawa yang lebih luas. Negara memposisikannya sebagai ikon nasional dan destinasi wisata, sedangkan industri pariwisata memandangnya sebagai aset ekonomi global. Setiap pihak membawa kepentingan dan narasinya sendiri.
Dengan demikian, Borobudur sesungguhnya adalah medan dialektika makna. Ia bukan hanya tumpukan batu yang diam, tetapi teks budaya yang terus dibaca ulang oleh zaman. Setiap generasi menuliskan tafsir baru di atas batu-batu tua itu sebagian untuk memahami masa lalu, sebagian lagi untuk menguasai masa kini.
Pada akhirnya, pertanyaan pentingnya bukan hanya “apa itu Borobudur?”, melainkan “siapa yang berhak menafsirkan Borobudur?”. Selama makna-makna itu terus diperebutkan, Borobudur akan tetap hidup bukan hanya sebagai monumen sejarah, tetapi sebagai cermin dinamika sosial dan budaya masyarakat yang mengitarinya.
Mas Candit Magelang