1
1
Pertanyaan sederhana ini sering muncul di tengah berbagai perdebatan tentang pengelolaan kawasan Borobudur: Borobudur sebenarnya milik siapa?
Apakah ia milik negara?
Apakah milik dunia karena statusnya sebagai warisan dunia?
Ataukah milik masyarakat yang hidup di sekitarnya sejak generasi ke generasi?
Pertanyaan ini mungkin tampak sederhana, tetapi jawabannya tidak sesederhana yang dibayangkan.
Warisan Dunia yang Lahir dari Tanah Nusantara
Secara hukum, Borobudur adalah milik negara Indonesia. Pengelolaannya diatur oleh pemerintah melalui berbagai lembaga yang bertugas menjaga kelestarian situs, mengelola kawasan wisata, serta mengembangkan potensi ekonominya.
Di tingkat internasional, Borobudur juga diakui sebagai Situs Warisan Dunia oleh UNESCO. Status ini menunjukkan bahwa nilai Borobudur tidak hanya penting bagi Indonesia, tetapi juga bagi peradaban manusia secara keseluruhan.
Dengan pengakuan tersebut, Borobudur seakan memiliki dua identitas sekaligus: ia adalah bagian dari kedaulatan bangsa, tetapi juga bagian dari warisan bersama umat manusia.
Namun di balik kerangka hukum dan pengakuan internasional itu, ada satu dimensi lain yang sering kali terlupakan.
Borobudur dalam Kehidupan Masyarakat
Bagi masyarakat yang hidup di sekitar kawasan Candi Borobudur, Borobudur bukan sekadar objek wisata atau simbol kebanggaan nasional. Ia adalah bagian dari ruang hidup.
Selama berabad-abad, masyarakat lokal hidup berdampingan dengan situs ini. Mereka menanam padi di ladang-ladang yang menghadap candi, menjalankan tradisi budaya, dan menjaga cerita-cerita lokal yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Borobudur tidak hanya hadir sebagai monumen, tetapi juga sebagai bagian dari memori kolektif masyarakat.
Karena itu, ketika berbagai kebijakan pengelolaan kawasan muncul, pertanyaan tentang kepemilikan sering kali muncul kembali. Bukan semata tentang hak hukum, tetapi tentang rasa memiliki.
Antara Kepentingan Pelestarian dan Pariwisata
Seiring berkembangnya industri pariwisata, Borobudur semakin diposisikan sebagai destinasi wisata internasional. Infrastruktur diperbaiki, kawasan ditata ulang, dan berbagai program pengembangan wisata dijalankan untuk menarik lebih banyak pengunjung.
Dari perspektif ekonomi, langkah ini tentu memiliki alasan yang kuat. Pariwisata dianggap mampu menggerakkan ekonomi lokal dan menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat sekitar.
Namun dalam praktiknya, pengembangan kawasan wisata sering kali menimbulkan pertanyaan baru: apakah masyarakat benar-benar menjadi bagian utama dari pembangunan tersebut, atau hanya menjadi penonton di tanah mereka sendiri?
Di sinilah isu kepemilikan kembali terasa relevan.
Kepemilikan yang Lebih dari Sekadar Status
Jika Borobudur hanya dilihat dari sudut pandang hukum, maka jawabannya memang jelas: ia milik negara. Tetapi dalam perspektif budaya dan sosial, kepemilikan tidak selalu ditentukan oleh dokumen resmi.
Kepemilikan juga lahir dari hubungan emosional, sejarah panjang, dan keterlibatan masyarakat dalam menjaga serta merawat warisan tersebut.
Borobudur mungkin tercatat sebagai milik negara, diakui sebagai milik dunia, tetapi ia juga hidup dalam hati masyarakat yang setiap hari memandangnya dari kejauhan.
Menemukan Makna Kepemilikan Bersama
Barangkali pertanyaan “Borobudur melik siapa?” tidak perlu dijawab dengan memilih satu pihak sebagai pemilik tunggal.
Borobudur adalah warisan yang lahir dari kebijaksanaan masa lalu dan dititipkan kepada generasi sekarang. Negara memiliki tanggung jawab hukum untuk melindunginya. Dunia memiliki kepentingan untuk menjaga nilainya sebagai warisan peradaban. Sementara masyarakat lokal memiliki hubungan historis dan emosional yang tidak tergantikan.
Jika ketiga unsur ini dapat berjalan bersama, maka Borobudur tidak hanya akan terjaga secara fisik, tetapi juga tetap hidup sebagai ruang budaya yang bermakna.
Warisan yang Harus Dijaga Bersama
Pada akhirnya, Borobudur bukan sekadar monumen batu yang berdiri megah di dataran Kedu. Ia adalah simbol perjalanan panjang manusia menuju kebijaksanaan.
Pertanyaan tentang kepemilikan mungkin akan terus muncul seiring perubahan zaman. Namun yang jauh lebih penting adalah bagaimana semua pihak mampu menjaga warisan ini dengan rasa tanggung jawab yang sama.
Karena pada akhirnya, Borobudur tidak hanya bertanya tentang siapa yang memilikinya.
Ia juga bertanya kepada kita semua: siapa yang bersedia menjaganya untuk masa depan.