1
1
1
2
3
4
5
Candi Borobudur bukan hanya sebuah monumen sejarah yang berdiri megah di tengah dataran Kedu. Lebih dari itu, Borobudur adalah pusaka peradaban yang menyimpan nilai-nilai spiritual, budaya, dan kebijaksanaan yang diwariskan oleh para leluhur. Namun menjaga pusaka sebesar Borobudur tidak hanya berarti merawat bangunan fisiknya, tetapi juga menjaga makna dan kehidupan budaya yang tumbuh di sekitarnya.
Kesadaran inilah yang melahirkan sebuah gerakan budaya yang dikenal dengan Ruwat Rawat Borobudur. Gerakan ini lahir dari kepedulian masyarakat terhadap kelestarian Borobudur, baik sebagai warisan budaya dunia maupun sebagai bagian dari kehidupan masyarakat yang tinggal di sekitarnya. Sejak awal digagas oleh komunitas masyarakat pada tahun 2003, Ruwat Rawat Borobudur menjadi ruang bersama untuk menghidupkan kembali hubungan antara Borobudur dan masyarakatnya.
Istilah ruwat dalam tradisi Jawa memiliki makna membebaskan atau membersihkan dari hal-hal yang dianggap membawa kesialan atau ketidakharmonisan. Sementara itu, rawat berarti merawat, menjaga, dan memelihara agar tetap lestari. Kedua kata tersebut menggambarkan semangat yang menjadi dasar gerakan ini: membersihkan dan merawat Borobudur, baik secara lahir maupun batin.
Ruwat Rawat Borobudur bukan sekadar sebuah ritual atau acara seremonial tahunan. Ia adalah gerakan budaya yang melibatkan berbagai elemen masyarakat: seniman, budayawan, komunitas desa, hingga generasi muda. Berbagai kegiatan dilakukan dalam rangkaian acara ini, mulai dari pertunjukan seni tradisi, doa bersama, diskusi kebudayaan, hingga berbagai bentuk ekspresi budaya yang lahir dari masyarakat.
Melalui kegiatan-kegiatan tersebut, masyarakat diajak untuk kembali menyadari bahwa Borobudur bukan hanya milik masa lalu, tetapi juga milik masa kini dan masa depan. Kehidupan budaya masyarakat yang tumbuh di sekitar Borobudur merupakan bagian penting dari ekosistem warisan tersebut. Tanpa keterlibatan masyarakat, Borobudur berisiko menjadi sekadar monumen yang indah tetapi kehilangan ruh budayanya.
Gerakan Ruwat Rawat Borobudur juga menjadi pengingat bahwa pelestarian warisan budaya tidak bisa hanya mengandalkan pendekatan teknis atau administratif. Dibutuhkan kesadaran bersama, rasa memiliki, serta keterlibatan aktif masyarakat dalam menjaga dan memaknai warisan tersebut.
Dalam konteks ini, Ruwat Rawat Borobudur dapat dipahami sebagai bentuk gotong royong budaya. Ia menghadirkan ruang bagi masyarakat untuk merawat pusaka leluhur dengan cara mereka sendiri, melalui tradisi, kesenian, dan kebersamaan.
Pada akhirnya, merawat Borobudur bukan hanya tentang menjaga batu-batu candi agar tetap utuh. Lebih dari itu, merawat Borobudur berarti menjaga nilai-nilai kebijaksanaan, harmoni, dan kearifan yang diwariskan oleh para leluhur. Selama masyarakat masih memiliki kepedulian untuk merawatnya bersama, Borobudur akan tetap hidup sebagai pusaka budaya yang memberi makna bagi kehidupan generasi sekarang dan yang akan datang.
Sucoro Setrodiharjo