1
1
1
2
3
4
5
Oleh : Sucoro Setrodiharjo
Di sekitar Candi Borobudur, selalu ada cerita yang bergerak di balik arus besar pembangunan. Cerita yang tidak selalu terlihat, tetapi nyata dalam kehidupan sehari-hari. Salah satunya adalah tentang mereka yang datang dengan satu tujuan: mencari harta.
Pemburu harta tidak selalu berarti mencari sesuatu yang terpendam di dalam tanah. Dalam konteks hari ini, “harta” bisa berarti peluang ekonomi, akses, dan keuntungan dari geliat kawasan yang terus berkembang. Mereka hadir dengan perhitungan, dengan strategi, dan dengan kejelian membaca momentum.
Di satu sisi, kehadiran mereka tidak bisa disalahkan. Setiap orang berhak mencari penghidupan. Setiap peluang memang mengundang siapa saja untuk datang dan mencoba. Namun persoalannya menjadi berbeda ketika perburuan itu tidak lagi sekadar mencari, tetapi mulai menguasai.
Di sinilah catatan menjadi penting.
“Mencatat kata dari pemburu harta” bukan berarti menghakimi, tetapi mencoba memahami cara pandang yang berkembang. Bagaimana sebuah kawasan yang sebelumnya menjadi ruang hidup bersama, perlahan berubah menjadi ruang perebutan. Bagaimana nilai-nilai kebersamaan mulai bergeser oleh kepentingan keuntungan.
Kata-kata yang muncul dari para pemburu harta sering kali terdengar sederhana: peluang, investasi, pengembangan, peningkatan nilai. Tetapi di balik kata-kata itu, ada dampak yang tidak selalu disebutkan.
Ruang yang dulu terbuka menjadi terbatas.
Kesempatan yang dulu merata menjadi tidak seimbang.
Dan masyarakat yang dulu menjadi bagian utama, perlahan terdorong ke pinggir.
Yang menarik, para pemburu harta sering kali lebih cepat membaca situasi dibandingkan masyarakat lokal. Mereka tahu kapan harus masuk, di mana harus menempatkan diri, dan bagaimana memanfaatkan kebijakan yang ada. Sementara masyarakat sekitar justru harus belajar beradaptasi dengan perubahan yang datang begitu cepat.
Ketimpangan ini bukan sekadar soal kemampuan, tetapi juga soal akses.
Di sinilah muncul pertanyaan penting: siapa yang sebenarnya diuntungkan dari perkembangan ini?
Jika yang berkembang hanya nilai ekonomi tanpa diikuti keadilan sosial, maka yang terjadi bukanlah kemajuan bersama. Ia hanya perpindahan keuntungan dari satu pihak ke pihak lain. Dan sering kali, pihak yang paling dekat dengan sumber justru menjadi yang paling sedikit menikmati.
Namun masyarakat tidak sepenuhnya diam.
Mereka mencatat. Bukan hanya dalam tulisan, tetapi dalam ingatan. Mereka mengamati perubahan, merasakan dampak, dan perlahan memahami pola yang terjadi. Dari situlah lahir kesadaran bahwa tidak semua yang disebut “peluang” benar-benar membawa manfaat bagi semua.
“Mencatat kata dari pemburu harta” pada akhirnya adalah upaya untuk menjaga keseimbangan. Untuk mengingatkan bahwa di balik setiap ambisi, ada ruang hidup yang harus dihormati. Bahwa di balik setiap keuntungan, ada nilai yang tidak boleh diabaikan.
Karena jika semua hanya berlomba mengejar harta, tanpa memikirkan keadilan, maka yang tersisa bukanlah kesejahteraan melainkan ketimpangan yang semakin dalam.
Dan ketika itu terjadi, catatan-catatan kecil dari pinggir akan menjadi saksi. Bahwa pernah ada ruang yang lebih adil, sebelum semuanya berubah menjadi perburuan.