Popular Posts

Menapak Jejak Leluhur Membaca Pustaka Kehidupan dalam Filosofi Jawa dan Borobudur

Oleh: Sucoro Setrodiharjo

Leluhur bukan sekadar masa lalu yang tertinggal dalam silsilah. Mereka adalah akar, penyampai wasiat kehidupan, dan arsitek peradaban yang agung. Mengabaikan jejak mereka sama saja dengan memutus aliran kearifan yang telah teruji zaman. Di tanah ini, leluhur kita bukanlah kaum terbelakang; mereka adalah manusia-manusia unggul yang mampu menata peradaban sedahsyat Borobudur. Sebuah mahakarya yang bukan sekadar tumpukan batu, melainkan sebuah pustaka semesta yang merekam perjalanan jiwa manusia.

Leluhur kita adalah sosok ksatria yang memegang teguh kejujuran—berani membenarkan yang benar dan mengakui yang salah. Alih-alih larut dalam keriuhan duniawi yang hampa, mereka lebih memilih melantunkan Kidung. Dalam setiap baitnya, tersimpan nilai keimanan dan cahaya batin yang menuntun pada pemahaman Sangkan Paraning Dumadi: sebuah kesadaran hakiki tentang dari mana manusia berasal dan ke mana ia akan kembali.

Sebagai anak zaman yang lahir dan tumbuh dari hasil bumi Nusantara, sudah sepatutnya kita menanggalkan keraguan akan jati diri. Mengapa kita harus merasa kerdil, sementara darah kita mengalirkan kecerdasan para maestro yang mampu menghadirkan harmoni antara manusia, alam, dan Sang Pencipta?

Struktur Borobudur adalah representasi visual dari perjalanan spiritual manusia. Konsep ini selaras dengan ajaran Jawa mengenai tahapan hidup yang penuh kesadaran:

  1. Kamadhatu (Ranah Keinginan): Lapisan dasar yang menggambarkan manusia yang masih dikendalikan oleh nafsu, insting, dan ilusi duniawi. Dalam filsafat Jawa, ini adalah fase ketika manusia kehilangan pusat kendali (Pancer) dan terseret oleh tarikan eksternal. Namun, leluhur mengajarkan bahwa fase ini tidak untuk dikutuk, melainkan dipahami sebagai titik berangkat.
  2. Rupadhatu (Ranah Bentuk): Tingkatan di mana manusia mulai menemukan kesadaran (Eling lan Waspada). Di sini, relief-relief moral mengajarkan kita untuk mengendalikan nafsu dan menata rasa. Manusia mulai memahami hukum sebab-akibat dan tanggung jawabnya sebagai makhluk sosial dan spiritual.
  3. Arupadhatu (Ranah Tanpa Bentuk): Puncak perjalanan jiwa di mana keterikatan pada ego dan simbol-simbol fisik dilepaskan. Inilah fase Manunggaling Kawula Gusti kondisi sunyi namun penuh, di mana hamba menyatu dengan sumber kehidupan dalam kesadaran yang paripurna.

Ajaran adiluhung Nusantara menekankan pada keseimbangan. Melalui posisi tangan (Mudra) pada arca di setiap arah mata angin, Borobudur mengajarkan sinkronisasi antara tubuh, pikiran, dan jiwa:

  • Timur: Kebangkitan kesadaran awal.
  • Selatan: Keteguhan dan keberanian dalam menjalani laku hidup.
  • Barat: Pengendapan batin melalui perenungan.
  • Utara: Puncak pemahaman dan kebijaksanaan.
  • Tengah (Pancer): Keseimbangan total dan pusat kesadaran sejati.

Manusia sejati adalah sebuah Mandala hidup. Tubuhnya adalah candi, hatinya adalah ruang sunyi, dan kesadarannya adalah puncak stupa yang mengarah pada Yang Maha Esa.

Mengenali jati diri bukanlah bentuk penolakan terhadap kemajuan zaman. Sebaliknya, ini adalah upaya untuk memperkokoh fondasi. Seperti halnya Borobudur yang tetap berdiri kokoh karena dasarnya yang kuat, manusia pun akan tetap tegak jika ia mengenal asal dan tujuannya.

Warisan leluhur adalah undangan untuk melakukan perjalanan pulang: dari hiruk-pikuk dunia menuju keheningan batin, dari dominasi ego menuju kejernihan jiwa. Menghidupkan kembali nilai Kiblat Papat Limo Pancer dan Sangkan Paraning Dumadi adalah cara terbaik untuk memuliakan mereka yang telah mendahului kita.

Sebab pada akhirnya, Borobudur tidak hanya berlokasi di Magelang. Ia hidup di dalam setiap individu yang berani mendaki jenjang kesadarannya sendiri untuk menjadi manusia yang utuh dan selaras dengan alam semesta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *