Popular Posts

Lebaran di Bawah Bayang Ancaman Tambang

Keripik Singkong dan Saku Lima Ribuan Simbol Keteguhan hati

Matahari mulai condong ke arah barat, membiarkan bayangan Pegunungan Menoreh jatuh menimpa atap-atap rumah di Desa Sambeng. Di sebuah rumah sederhana, hanya empat kilometer dari kemegahan Candi Borobudur, Pak Andalan duduk di amben kayu. Tangannya menggenggam amplop tipis berisi upah mingguan yang terasa sangat ringan. Tidak ada THR tahun ini; pabrik mori tempatnya membanting tulang sedang sekarat.

Ia mengeluarkan isinya: tumpukan uang lima ribuan yang lusuh. Ada rasa getir yang menyumbat tenggorokan saat ia menghitung lembar demi lembar. Di dapur, istrinya sedang membolak-balik keripik singkong di atas wajan tanah liat. Aroma gurih singkong goreng meruap, seolah berusaha mengusir aroma kecemasan yang memenuhi ruang tamu.

“Lebaran ini kita tak butuh baju baru, Pak. Yang penting tungku masih berasap,” suara istrinya terdengar tenang namun sarat keteguhan. Bagi mereka, keripik singkong itu bukan sekadar camilan, melainkan simbol bertahan hidup di tengah badai yang tak kunjung reda

Namun, bukan hanya urusan perut yang membuat tidur Pak Andalan tak nyenyak. Desas-desus tentang kontraktor yang mengincar tanah pegunungan mereka telah berubah menjadi ancaman nyata: tambang tanah uruk. Bagi Pak Andalan dan ratusan warga Sambeng lainnya, tanah ini bukan sekadar komoditas; ini adalah ruang hidup, benteng terakhir mereka di bawah bayang-bayang warisan dunia UNESCO.

Puncaknya terjadi pada Minggu, 22 Februari 2026. Suasana desa yang biasanya tenang berubah menjadi lautan keresahan yang terorganisir. Kekecewaan setelah audiensi yang buntu dengan DPRD Kabupaten Magelang telah membakar sisa kesabaran warga.

“Kita tidak boleh diam! Jika gunung ini dikeruk, apa yang tersisa untuk anak cucu kita?” teriak Suratman, Humas Gema Pelita, di tengah kerumunan.

Pak Andalan ikut turun ke jalan. Ia melihat sekitar 500 tetangganya dari enam dusun—mulai dari Sambeng hingga Kedungan—bahu-membahu tanpa sekat. Sepanjang jalan dari perbatasan Candirejo hingga wilayah Bigaran kini “berhias” ratusan spanduk putih. Tulisan di sana adalah luapan emosi yang jujur: “Jangan Rampas Ruang Hidup Kami!” dan “Borobudur Warisan Dunia, Kenapa Menoreh Ditambang?”

Setiap paku yang ditancapkan ke kayu penyangga spanduk terasa seperti tumpuan harapan bagi Pak Andalan. Baginya, setiap kata di spanduk itu mewakili martabat lembaran lima ribuan di sakunya—kecil dan sederhana, namun dikumpulkan dengan harga diri yang tinggi

Malam harinya, Pak Andalan kembali ke rumah setelah seharian bergelut dengan bisingnya mesin pabrik dan riuhnya aksi di jalan desa. Di meja kayu, setoples keripik singkong sudah tertata rapi, siap menyambut hari kemenangan yang tinggal menghitung hari.

Meski masa depan terasa gamang dan tanah tempatnya berpijak sedang dipertaruhkan, ada rasa hangat yang menjalar di dadanya. Ia menyadari bahwa Lebaran kali ini memang tidak menawarkan kemewahan materi. Namun, di tengah kepungan rencana tambang dan himpitan ekonomi, ia menemukan sesuatu yang lebih berharga: kebersamaan yang solid dan persaudaraan yang menguat.

Di kaki Menoreh yang megah, mereka tetap berdiri tegak. Selagi spanduk-spanduk itu masih berkibar menantang angin, selama itu pula harapan tidak akan pernah habis “digoreng” oleh keadaan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *