1
1
Borobudur 22-2026 :Berbeda dengan suasana di dalam lorong kios, area luar Kampung Seni Kujon justru menunjukkan geliat yang cukup ramai pada Minggu, 22 Maret 2026. Deretan kendaraan memenuhi area parkir, menandakan tingginya arus kunjungan wisatawan di momen Lebaran hari kedua.
Mobil-mobil pribadi, bus kecil, hingga kendaraan rombongan tampak berjajar rapat di bawah langit yang mendung. Aktivitas ini menjadi penanda bahwa kawasan sekitar masih menjadi tujuan yang diminati, terutama karena kedekatannya dengan Candi Borobudur yang terus menjadi magnet utama wisata.
Namun, kondisi ini sekaligus menghadirkan pertanyaan yang menarik: ketika area parkir penuh oleh pengunjung, mengapa denyut kehidupan di dalam kios-kios Kampung Seni Kujon justru terasa sepi?
Kampung Seni Kujon, suasana Lebaran hari kedua, Minggu 22 Maret 2026, tampak berjalan lebih lengang dari yang diharapkan. Deretan kios kerajinan yang tertata rapi di kiri dan kanan lorong terlihat sunyi, hanya ditemani beragam produk seni seperti aksesori, anyaman, hingga cinderamata khas yang menggantung menunggu sentuhan pembeli.
Terlihat para pedagang tampak berjalan perlahan di tengah Lorong sambil melihat keramaian , seakan mengisi ruang yang sepi. Harapan akan ramainya kunjungan wisatawan di momen Lebaran belum sepenuhnya terwujud mungkin karena hari ini baru hari kedua dimana pengunjung masih berlebaran di Desa-desa asalnya . Padahal, lokasi Kampung Seni ini berada tidak jauh dari kawasan Candi Borobudur yang biasanya menjadi magnet utama wisata.
Kondisi ini menjadi ironi kecil di tengah potensi besar yang dimiliki. Karya-karya warga yang penuh kreativitas dan nilai budaya seakan menunggu untuk ditemukan, namun arus pengunjung belum banyak mengalir ke area ini. Para pedagang tetap bertahan, menjaga kios mereka dengan harapan bahwa langkah-langkah wisatawan suatu saat akan singgah dan menghidupkan kembali denyut ekonomi di Kampung Seni Kujon.
Ada kemungkinan arus wisata masih terfokus pada titik-titik utama, tanpa banyak mengalir masuk ke ruang-ruang ekonomi kreatif yang telah disiapkan warga. Ini menjadi catatan penting bahwa keramaian belum tentu merata, dan perlu ada upaya lebih untuk menghubungkan langkah pengunjung dengan ruang-ruang karya lokal.
Di sinilah tantangan sekaligus peluang itu berada bagaimana menghadirkan pengalaman yang mengundang wisatawan tidak hanya datang, tetapi juga singgah, melihat, dan akhirnya menghidupkan kembali kios-kios yang penuh karya di dalamnya.