1
1
Pemugaran besar Candi Borobudur yang selesai pada awal 1980-an sering dipandang sebagai keberhasilan besar dalam dunia konservasi. Dengan dukungan internasional, struktur candi berhasil diselamatkan dari ancaman kerusakan serius. Dunia memuji keberhasilan teknis ini sebagai salah satu proyek pelestarian warisan budaya terbesar abad ke-20.
Namun di balik keberhasilan fisik tersebut, ada dinamika sosial yang jarang dibicarakan secara terbuka.
Sejak saat itu, pengelolaan kawasan Borobudur memasuki era baru yang lebih terpusat dan berorientasi pada pengembangan pariwisata. Kawasan di sekitar candi ditata ulang, zonasi diterapkan, dan berbagai kebijakan baru diberlakukan untuk mendukung pengembangan wisata.
Perubahan ini membawa konsekuensi besar bagi masyarakat lokal yang telah hidup berdampingan dengan Borobudur selama berabad-abad.
Sebagian warga harus menghadapi relokasi, perubahan pola ekonomi, serta pembatasan akses terhadap ruang yang sebelumnya menjadi bagian dari kehidupan mereka. Transformasi yang terjadi sangat cepat, sementara ruang dialog antara masyarakat dan pengambil kebijakan sering kali tidak berjalan secara seimbang.
Selama empat dekade berikutnya, berbagai persoalan sosial muncul sebagai akumulasi dari perubahan tersebut. Kesenjangan akses ekonomi, ketimpangan distribusi manfaat pariwisata, serta fragmentasi sosial di antara kelompok masyarakat menjadi fenomena yang tidak bisa diabaikan.
Di satu sisi, Borobudur berkembang sebagai destinasi wisata dunia. Namun di sisi lain, tidak semua masyarakat di sekitarnya merasakan manfaat yang setara dari perkembangan tersebut.
Kondisi ini perlahan melemahkan modal sosial yang sebelumnya menjadi kekuatan utama masyarakat Borobudur: gotong royong dan rasa kebersamaan. Persaingan ekonomi yang semakin ketat, akses peluang yang tidak merata, serta kebijakan yang sering bersifat top-down membuat kohesi sosial masyarakat mengalami tekanan.
Akibatnya, muncul rasa keterasingan kolektif. Banyak warga merasa bahwa Borobudur yang berdiri megah di hadapan mereka tidak lagi sepenuhnya menjadi bagian dari kehidupan mereka sendiri.
Kegaduhan sosial yang muncul dalam berbagai bentuk—mulai dari protes pedagang hingga konflik kepentingan antar pihak—tidak dapat dipahami sebagai peristiwa yang berdiri sendiri. Ia merupakan akumulasi panjang dari persoalan struktural yang belum sepenuhnya terselesaikan.
Dalam konteks ini, membicarakan masa depan Borobudur tidak cukup hanya berbicara tentang konservasi fisik atau pengembangan pariwisata. Yang jauh lebih penting adalah memulihkan kembali hubungan antara situs, masyarakat, dan kebijakan publik.
Borobudur bukan hanya warisan budaya dunia, tetapi juga ruang hidup bagi masyarakat yang telah menjaga dan merawatnya lintas generasi.
Tanpa rekonsiliasi sosial yang jujur, kemegahan Borobudur akan selalu berdiri di atas luka yang belum sepenuhnya sembuh.