1
1
Oleh: [Sucoro Setrodiharjo ]
Di tengah dunia yang kian bising oleh arus informasi, tuntutan produktivitas, dan percepatan hidup yang nyaris tanpa jeda, manusia modern perlahan kehilangan asetnya yang paling berharga: kejernihan batin. Pikiran kita sering kali menjadi wadah yang penuh sesak oleh hal-hal yang datang tanpa henti. Tubuh bergerak mekanis dari satu tugas ke tugas lain, sementara hati sering kali tertinggal di belakang—tak sempat diajak pulang.
Dalam situasi inilah, perjalanan spiritual bukan lagi sekadar pilihan gaya hidup, melainkan sebuah kebutuhan untuk bertahan. Kita tidak lagi mencari sekadar liburan untuk berpindah tempat, melainkan mencari “ruang pembersihan” yang memungkinkan kita kembali hadir sepenuhnya bagi diri sendiri. Bagi banyak orang, ruang itu bernama Borobudur.
Borobudur Tempat Berproses, Bukan Sekadar Destinasi
Datang ke Borobudur dengan niat spiritual berbeda dengan datang sebagai wisatawan biasa. Bagi mereka yang mencari kedamaian, Borobudur adalah sebuah praktik. Ia adalah proses penyembuhan diri (self-healing) untuk menata ulang pikiran, merawat tubuh, dan menyucikan hati.
Menariknya, praktik ini sering kali bersifat universal. Salah seorang peziarah batin yang saya temui mempraktikkan pemurnian batin yang terinspirasi dari tradisi Lama Gangchen sebuah metode yang menekankan doa dan keheningan. Namun, ia bukanlah seorang penganut Buddha formal. Ia tumbuh dalam akar tradisi Kristen Pentakosta yang kental dengan pengalaman Roh Kudus.
Perjalanan imannya adalah bukti bahwa spiritualitas tidak selalu harus kaku. Melalui pertanyaan-pertanyaan mendasar tentang perbedaan keyakinan, ia sampai pada satu titik kesadaran: bahwa di balik semua label agama, ada sebuah eksistensi yang melampaui logika manusia—sebuah kekuatan yang hanya bisa dirasakan oleh kesadaran yang tenang.
Mengosongkan Bejana yang Keruh
Mengapa harus Borobudur? Di sana, ada suasana yang menawarkan “kejernihan” sebuah keadaan di mana pikiran terasa lebih ringan dan terbuka.
Di rumah, kehidupan mungkin terasa keruh oleh beban tanggung jawab. Di Borobudur, kita belajar melakukan hal yang paling sulit dilakukan manusia modern: mengosongkan pikiran. Tidak perlu klaim pencerahan atau kesucian mutlak. Cukup dengan duduk, berdoa, dan mencoba untuk benar-benar “hadir”.
Proses “ruwat diri” ini bekerja secara perlahan. Dengan membersihkan pikiran dari beban dan tubuh dari ketegangan, seseorang bisa kembali ke kehidupan sehari-hari dengan kondisi yang lebih utuh (whole) dan sadar (mindful).
Menggugat Kesucian yang Terlupakan
Namun, di balik pengalaman personal tersebut, muncul sebuah kegelisahan: Apakah spiritualitas masih menjadi ruh dalam pengelolaan Borobudur saat ini?
Sebagai monumen suci, Borobudur seharusnya dijaga bukan hanya fisiknya, melainkan juga maknanya. Ada harapan agar Borobudur tidak hanya menjadi komoditas pariwisata “datang, foto, lalu pergi”. Borobudur butuh ruang bagi mereka yang ingin mempraktikkan keheningan. Dunia saat ini justru kekurangan tempat yang menyimpan kesunyian tempat yang menghubungkan manusia dengan sesuatu yang lebih besar dari dirinya sendiri.
Energi dalam Balutan Kepedulian
Ada “energi” yang tersimpan di balik susunan batu itu. Bukan sekadar mistis, energi ini adalah akumulasi makna dari jejak doa dan kesadaran manusia selama berabad-abad. Menjaga kesucian Borobudur berarti menjaga cara kita berinteraksi dengannya. Apakah kita datang sebagai konsumen pengalaman, atau sebagai pribadi yang membawa kesadaran?
Kepedulian ini jugalah yang terlihat dalam gerakan seperti Ruwat Rawat Borobudur. Meski mungkin bukan bagian dari protokol resmi, praktik ini menunjukkan adanya cinta yang hidup. Manusia-manusia yang merawat Borobudur dengan tulus adalah cerminan spiritualitas yang nyata.
Menjaga Ruh yang Hidup
Pada akhirnya, Borobudur bukan sekadar benda mati dari masa lalu. Ia adalah ruang hidup. Ia adalah cermin bagi siapa saja yang ingin bercermin pada batinnya sendiri.
Dalam dunia yang semakin kehilangan arah batin, tempat-tempat seperti Borobudur menjadi semakin krusial. Tantangan terbesar kita hari ini bukan hanya memastikan stupa-stupanya tetap tegak berdiri, melainkan memastikan bahwa ruh, kesucian, dan kejernihan yang ditawarkannya tetap hidup bagi generasi mendatang.