1
1
Antara Fitnah, Pembunuhan Karakter, Kepentingan, dan Kerja Nyata
Borobudur Maret 2026 : Selama lebih dari empat dekade, pengelolaan Borobudur tidak hanya diwarnai oleh dinamika pembangunan dan pengembangan kepariwisataan, tetapi juga oleh sebuah “perang sunyi” bukan perebutan wilayah, melainkan perebutan persepsi, eksistensi, dan kepentingan ekonomi.
Di tengah pusaran itu, berbagai narasi saling bertabrakan: antara pelestarian dan eksploitasi, antara nilai dan keuntungan, antara kerja nyata dan opini yang dibentuk, hingga praktik pembunuhan karakter.
Di tengah situasi tersebut, Pak Sucoro memilih jalan yang berbeda. Ia tidak berdiri dalam kebisingan, melainkan bekerja dalam senyap. Namun justru karena itu, langkahnya kerap dikepung berbagai tuduhan mulai dari kepentingan pribadi hingga dianggap menghambat pembangunan.
Tidak sedikit pula narasi yang terkesan direkayasa dan disebarkan secara sistematis, membentuk semacam “hoaks kolektif” yang berupaya mereduksi makna gerakan yang ia bangun.
Contoh konkret dapat dilihat pada rencana pembangunan Pasar Seni Jagad Jawa yang sempat ditentang oleh Pak Sucoro dan rekan-rekannya. Setelah proyek tersebut berjalan, berbagai persoalan justru muncul, menguatkan kekhawatiran yang sebelumnya disuarakan.
Pertanyaan mendasar pun muncul:
mengapa gerakan yang berangkat dari kecintaan terhadap Borobudur justru menghadapi resistensi yang terorganisir?
Gerakan Ruwat Rawat Borobudur: Jalan Sunyi yang Berbeda
Gerakan Ruwat Rawat Borobudur lahir bukan dari ruang kekuasaan, melainkan dari kesadaran budaya. Ia tumbuh dari keyakinan bahwa Borobudur bukan sekadar objek wisata, melainkan ruang hidup yang menyatu dengan masyarakat serta nilai-nilai spiritual yang melingkupinya.
Namun sejak awal, pendekatan ini tidak selalu sejalan dengan arus utama.
Sebagian penggerak budaya bekerja dalam kerangka program formal pemerintah, sementara gerakan ini berdiri secara mandiri. Di sisi lain, pelaku usaha pariwisata cenderung mendorong pengembangan kawasan secara masif demi pertumbuhan ekonomi.
Dalam konteks tersebut, pendekatan pelestarian yang diusung Pak Sucoro kerap dipandang sebagai penghambat. Nilai spiritual yang ia bawa bahkan sering disalahpahami sebagai urusan agama semata, padahal yang dimaksud adalah kesadaran kultural yang lebih luas.
Pada beberapa periode, sebagian elemen pemerintah juga melihat pembangunan besar sebagai simbol kemajuan. Sikap kritis Pak Sucoro terhadap proyek-proyek yang dinilai tidak selaras dengan nilai Borobudur kerap dianggap memperlambat proses.
Padahal, yang diperjuangkan bukanlah penolakan terhadap pembangunan, melainkan keberpihakan pada keseimbangan.
Berbeda dengan konsep wisata massal, Pak Sucoro mendorong penyebaran manfaat hingga ke desa-desa sekitar. Berlandaskan filosofi Kiblat Papat Limo Pancer, ia menempatkan masyarakat sebagai pusat, bukan sekadar pelengkap dalam ekosistem pariwisata.
Stigma, Opini, dan Pembentukan Persepsi
Perbedaan pandangan tersebut kemudian berkembang menjadi kritik terbuka, bahkan stigma personal. Gerakan Ruwat Rawat Borobudur kerap disebut tidak relevan, terlalu tradisional, hingga dianggap menghambat kemajuan.
Pak Sucoro pun tidak luput dari pelabelan: anti-pembangunan, kuno, memiliki kepentingan pribadi, bahkan dituduh memecah belah masyarakat. Narasi-narasi ini menyebar, tidak hanya di ruang publik, tetapi juga melalui komunikasi informal yang sulit dilacak.
Dalam banyak kasus, pola ini menunjukkan sesuatu yang lebih dalam:
bukan sekadar perbedaan pendapat, melainkan upaya pembentukan persepsi hingga pembunuhan karakter .
Sebab, cara paling mudah meruntuhkan sebuah gagasan bukanlah dengan menghancurkan isinya, melainkan dengan merusak kepercayaan terhadap orang yang membawanya.
Menjawab dengan Kerja Nyata
Alih-alih membalas dengan retorika, Pak Sucoro memilih menjawab melalui tindakan nyata. Selama lebih dari dua dekade, gerakan Ruwat Rawat Borobudur terus berjalan secara konsisten sebuah capaian yang tidak mudah di tengah kompleksitas kepentingan.
Gerakan ini tumbuh melalui keterlibatan masyarakat luas: tokoh agama, seniman, pelajar, hingga warga desa. Melalui komunitas Brayat Panangkaran Borobudur, gerakan ini menjadi ruang kolektif, bukan sekadar wadah kepentingan kelompok atau individu.
Selain kegiatan budaya, Pak Sucoro aktif membangun ruang dialog, seperti penyelenggaraan webinar series dengan menghadirkan akademisi, praktisi, tokoh lintas agama, hingga pejabat. Ia juga sering menjadi pembicara dalam seminar, terlibat dalam diskusi publik, serta mengedukasi masyarakat tentang pentingnya keseimbangan antara pelestarian, perlindungan, dan pemanfaatan.
Di bidang pendidikan, ia menyampaikan nilai-nilai Borobudur kepada generasi muda dan wisatawan. Melalui media, ia berupaya meluruskan informasi yang keliru sekaligus memperkuat narasi pelestarian berbasis masyarakat.
Jejak Akademik dan Pengakuan Ilmiah
Menariknya, gagasan yang diperjuangkan dalam gerakan ini memiliki keselarasan dengan berbagai kajian ilmiah, termasuk penelitian oleh BRIN dan kolaborasi internasional.
Sejumlah studi menegaskan pentingnya keterlibatan masyarakat lokal dalam pengelolaan Borobudur baik dalam aspek bahasa, ekonomi desa, maupun nilai spiritual. Pendekatan ini sejalan dengan apa yang sejak lama diperjuangkan oleh Pak Sucoro.
Kajian lain menggunakan perspektif ekologi dan lanskap budaya untuk membaca Borobudur sebagai ruang hidup yang menyatukan manusia, alam, dan nilai. Proyek digitalisasi relief bersama institusi internasional juga menunjukkan bahwa Borobudur tetap menjadi perhatian dunia.
Meski tidak selalu tercatat sebagai penulis dalam publikasi akademik, kontribusi Pak Sucoro hadir sebagai fondasi empiris melalui pengalaman lapangan dan perspektif yang memperkaya berbagai penelitian tersebut.
Jejak dalam Literatur dan Narasi Budaya
Kontribusi serupa juga terlihat dalam berbagai buku tentang Borobudur. Sejumlah karya memuat gagasan dan pengalaman Pak Sucoro, baik sebagai narasumber maupun kolaborator.
Buku seperti Borobudur Inspirasi Borobudur dan Pustaka Aksara Borobudur menunjukkan bagaimana nilai budaya menjadi dasar pelestarian. Sementara karya sejarah seperti Borobudur dalam Seribu Tradisi memperkaya pemahaman tentang hubungan antara tradisi masyarakat dan Borobudur.
Karya berupa buku serupa seperti Sinau Maca Kahanan lan Ajar Kanthi Nalar serta Dilema Borobudur juga merekam dinamika tersebut. Dalam konteks ini, Pak Sucoro hadir sebagai sumber inspirasi dan rujukan, bukan sekadar nama di sampul.
Keteguhan sebagai Jawaban
Pada akhirnya, perjalanan ini menunjukkan bahwa tidak semua hal perlu dijawab dengan kata-kata. Ada jawaban yang justru hadir dalam bentuk konsistensi, ketulusan, dan kerja nyata.
Di tengah berbagai tuduhan, waktu menjadi penyaring yang paling jujur. Apa yang dibangun atas dasar kepentingan sesaat akan memudar, sementara yang berakar pada nilai akan bertahan.
Pak Sucoro membuktikan bahwa integritas tidak diukur dari seberapa keras seseorang membela diri, melainkan dari seberapa besar ia memberi. Bahwa pelestarian bukanlah penghambat kemajuan, melainkan fondasi agar kemajuan tidak kehilangan arah.
Pada akhirnya, masyarakat tidak hidup dari narasi yang diperdebatkan, melainkan dari hasil nyata yang dapat dirasakan.
Dan Borobudur tetap berdiri bukan hanya sebagai warisan masa lalu, tetapi sebagai cermin tentang bagaimana manusia hari ini memilih:
merawat, atau sekadar memanfaatkan.