1
1
Di teras Galeri Admojo, Tuksongo, siang itu tidak ada yang tampak serius setidaknya di permukaan. Tiga lelaki duduk santai: satu bersandar di kursi tua dengan wajah penuh pengalaman, satu lagi setengah selonjor di bangku panjang yang mulai kropos, dan satu lainnya sibuk dengan gayanya sambil sesekali nyengir sendiri. Di depan mereka, kopi tinggal separuh, kacang rebus berserakan, pisang godog mulai dingin seolah ikut mendengar obrolan yang makin lama makin “matang”.
Awalnya cuma candaan. Saling ejek seperti biasa.
“Jenengmu wis apik, tapi jenangé kok ora tau teko?” celetuk satu.
Yang lain langsung menyambar, “Jeneng iku kanggo undangan, jenang iku kanggo kenyataan!”
Tawa pecah. Keras. Lepas. Tapi kalau didengar lebih dalam, ada yang retak di dalamnya.
Tak lama, arah obrolan mulai belok. Dari guyonan jadi sindiran. Dari sindiran jadi semacam pengakuan pahit yang dibungkus tawa.
“Wes patang puluh taun, rek… sing dijanjekno kae opo?”
Yang lain nyeletuk cepat, “Dijanjekno opo ? sekarang bicara pelestarian ? dari dulu proyek itu untuk pelestarian . Ketika rakyat nagih janji , Rakyat /masyarakat yang mana ? dan siapa mereka ?!
Aku pernah bicara mempertanyakan tentang siapa sebenernya masyarakat itu di Gedung Rakyat ( DPRD ) ” di jawab itu bisa Lurah atau Kades . Tapi selama ini Kades ,Lurah ketika masyarakat kesulitan , hampir semuanya diam. Lihat saja persoalan ribuan pedagang malah sampai LBH , Komnas HAM
Tawa lagi. Kali ini lebih panjang. Tapi terasa seperti menertawakan diri sendiri.
Obrolan makin panas, walau tetap dibungkus dinginnya kopi yang hampir habis. Mereka menyinggung demo, rapat, forum, pertemuan semua yang katanya untuk rakyat.
“Ngumpul terus, demo terus… sing entuk hasil yo kuwi-kuwi wae.”
“Pemberdayaan?”
“Yo pemberdayaan… sing cedhak karo sing nduwe daya!”
Saling pandang. Lalu ketawa lagi. Tidak perlu penjelasan. Semua sudah paham siapa yang dimaksud.
Lalu sampailah pada bagian paling “ilmiah” sore itu.
Salah satu dari mereka, sambil nyengir, nyeletuk:
“Ngomong-ngomong, MSi kuwi opo to?”
Tanpa jeda, yang lain langsung menjawab:
“Master Semua Ilmu!”
Yang ketiga menimpali, lebih pedas:
“Iyo… kabeh ilmu dikuwasani… asal ujunge duit!”
Ledakan tawa tak terbendung. Bahkan yang tadi serius ikut ngakak. Tapi justru di situlah letak tajamnya gelar, ilmu, perjuangan, semua seperti direduksi menjadi satu kata: kepentingan.
Di sela tawa itu, satu kalimat meluncur pelan, hampir tenggelam:
“Borobudur saiki kok yo koyo fosil… dipajang, diselipi pertanyaan sapa sik duwe ”
Sunyi sebentar. Hanya sebentar. Lalu ditutup lagi dengan candaan:
“Koro ngenteni soto ndlesep sing durung mbukak ngarep-arep, tapi durung mesthi!”
Tawa kembali pecah. Tapi kali ini, ada yang tertinggal di udara semacam kesadaran yang tidak bisa lagi ditertawakan sepenuhnya.
Di bangku kayu yang hampir rapuh itu, tiga lelaki itu tidak sedang sekadar bercanda. Mereka sedang membongkar kenyataan pelan-pelan, aman, tanpa teriak. Guyonan jadi alat. Ejekan jadi bahasa. Tawa jadi pelindung.
Dan di antara semua itu, terselip satu pertanyaan yang tak pernah benar-benar terjawab:
apakah “Master Semua Ilmu” hari ini masih mencari makna… atau sekadar mencari jalan paling cepat menuju duit?
Top of Form
Bottom of Form