1
1
Oleh Dwias Panghegar
Jika Candi Borobudur ingin dihadirkan sebagai destinasi kelas dunia, maka pertanyaan mendasarnya bukan hanya “bagaimana menarik wisatawan”, tetapi “peradaban seperti apa yang ingin kita bangun dari Borobudur?”
Inilah pertanyaan yang sering terlewat.
Selama ini, pembangunan kerap dipahami sebagai proses fisik: memperbaiki infrastruktur, meningkatkan aksesibilitas, dan mengembangkan kawasan. Semua itu penting. Namun pembangunan peradaban tidak berhenti pada aspek material. Ia harus menyentuh dimensi yang lebih dalam—yakni manusia sebagai pusat dari seluruh proses tersebut.
Peradaban tidak pernah tumbuh dari atas.
Ia tumbuh dari akar—dari kehidupan sehari-hari masyarakat yang berinteraksi dengan ruangnya. Dalam konteks Borobudur, masyarakat lokal bukan sekadar “penduduk sekitar”, tetapi bagian inheren dari ekosistem peradaban itu sendiri. Mereka adalah penjaga nilai, penerus tradisi, sekaligus jembatan antara masa lalu dan masa depan.
Ketika masyarakat ditempatkan di pinggiran, maka pembangunan kehilangan fondasi.
Kita sering mengangkat konsep spiritual tourism, menjadikan Borobudur sebagai pusat refleksi dunia. Gagasan ini memiliki potensi besar. Namun spiritualitas tidak bisa diproduksi seperti komoditas. Ia tidak lahir dari kemasan, tetapi dari kejujuran ruang sosial yang ada di dalamnya.
Bagaimana mungkin kita menawarkan pengalaman reflektif kepada dunia, jika masyarakat di sekitarnya belum sepenuhnya merasakan keadilan?
Spiritualitas menuntut integritas.
Ia hanya bisa tumbuh dari harmoni antara nilai dan realitas. Jika ada ketimpangan, jika ada keterasingan masyarakat lokal, maka narasi spiritual itu menjadi rapuh. Ia kehilangan akar.
Karena itu, membangun Borobudur ke depan harus dimulai dari keberanian untuk mengubah paradigma: dari pembangunan berbasis kepemilikan menuju pembangunan berbasis makna dan keterlibatan.
Masyarakat harus menjadi pusat, bukan pelengkap.
Ini bukan sekadar wacana normatif, tetapi kebutuhan mendasar jika kita ingin menjaga keberlanjutan Borobudur sebagai ruang peradaban. Ketika masyarakat memiliki akses, peran, dan rasa memiliki yang nyata, maka nilai-nilai Borobudur akan terus hidup—tidak hanya sebagai warisan masa lalu, tetapi sebagai kekuatan masa depan.
Borobudur harus menjadi ruang yang menghidupkan.
Ruang yang tidak hanya mendatangkan manfaat ekonomi, tetapi juga memperkuat martabat manusia. Ruang yang tidak hanya dikunjungi, tetapi juga dipahami. Ruang yang tidak hanya dilihat, tetapi juga dirasakan.
Karena pada akhirnya, peradaban tidak diukur dari seberapa megah yang dibangun, tetapi dari seberapa dalam ia dimaknai oleh manusia yang hidup di dalamnya.
Dan Borobudur, sejak awal, tidak pernah mengajarkan kita untuk memiliki.
Ia mengajarkan kita untuk memahami.