1
1
“Borobudur bukan sekadar tentang berapa banyak yang dihasilkan, tetapi tentang seberapa mampu memahami apa yang diwariskan.”
Di dalam hidup, manusia terbiasa mengukur segalanya. Kita menghitung waktu, menakar biaya, mencatat jumlah, dan menilai keberhasilan melalui angka. Dalam banyak hal, cara ini memang membantu memberi kepastian dan arah.
Namun ketika kita berbicara tentang Candi Borobudur, pendekatan tersebut hanya mampu menjelaskan sebagian kecil dari keseluruhan maknanya.
Secara fisik, Borobudur adalah keajaiban yang dapat dihitung. Ia tersusun dari sekitar dua juta balok batu, menjulang setinggi lebih dari 30 meter, dan berdiri kokoh sebagai salah satu pencapaian arsitektur terbesar dalam sejarah Nusantara. Semua ini adalah fakta konkret sesuatu yang bisa dicatat, diteliti, dan dikagumi secara rasional.
Di masa kini, angka-angka itu berkembang dalam bentuk lain. Borobudur menjadi pusat aktivitas ekonomi:
Nama seperti Hotel, Bandara, Biro Perjalanan samapai aktifitas pariwisata lainya , semua menunjukkan bagaimana Borobudur tidak hanya menjadi situs sejarah, tetapi juga pusat pergerakan ekonomi yang luas.
Tidak ada yang salah dengan itu. Justru, angka-angka tersebut menunjukkan bahwa Borobudur hidup memberi manfaat nyata bagi banyak orang.
Namun, di sinilah titik kritisnya.
Ketika Borobudur terlalu lama dipandang hanya melalui logika angka, perlahan kita mulai menggeser cara melihatnya. Ia tidak lagi dipahami sebagai warisan peradaban, tetapi sebagai “aset” yang harus dioptimalkan. Ia tidak lagi dilihat sebagai ruang makna, melainkan sebagai sumber pendapatan.
Dari sinilah berbagai persoalan mulai muncul:
Padahal, jika kita menengok kembali sejarahnya, Borobudur tidak pernah dibangun untuk tujuan-tujuan tersebut.
Pada masa Dinasti Syailendra, Borobudur didirikan bukan sebagai destinasi, melainkan sebagai persembahan. Ia adalah ruang suci, sebuah mandala besar yang menggambarkan perjalanan manusia menuju kesadaran yang lebih tinggi.
Artinya, sejak awal, Borobudur tidak lahir dari logika ekonomi. Ia lahir dari kesadaran spiritual.
Maka, ketika hari ini kita hanya menempatkannya dalam kerangka logika angka, sesungguhnya kita sedang melihatnya secara tidak utuh.
Tulisan ini bukan untuk menolak angka.
Bukan pula untuk menafikan manfaat ekonomi.
Tetapi untuk mengingatkan:
bahwa apa yang bisa dihitung dari Borobudur betapapun besarnya tetap bukan inti dari keberadaannya.
Dan mungkin, kita perlu mulai bertanya:
apakah kita sedang mengelola Borobudur…
atau justru sedang kehilangan maknanya?
Sucoro Setrodiharjo Saptu 28 Maret 2026 Pkl 20.00 wib