1
1
Oleh: Sucoro Setro Diharjo
Borobudur sejak lama dipahami bukan sekadar destinasi, melainkan sebuah pusat gravitasi sebuah “cahaya besar” yang menarik perhatian dunia. Dari kesadaran itulah lahir sebuah gagasan fundamental: bagaimana agar cahaya itu tidak berhenti di pelataran candi, tetapi mengalir ke desa-desa di sekitarnya.
Gagasan ini bertujuan menghidupkan ekonomi, menjaga denyut budaya, dan memberi ruang bagi masyarakat untuk menjadi pelaku utama. Visi tersebut kemudian menjelma menjadi apa yang kita kenal sebagai Balai Ekonomi Desa (Balkondes). Sebagai bagian dari mereka yang terlibat dalam merumuskan gagasan awal ini, saya merasa penting untuk bicara jujur tentang harapan dan kenyataan yang kini kita hadapi.
Sejak awal, Balkondes tidak dirancang sebagai proyek fisik semata. Ia adalah pengejawantahan dari pendekatan pariwisata berbasis masyarakat (community-based tourism). Ada empat pilar utama yang menjadi tujuannya:
Balkondes diposisikan sebagai “simpul” ruang temu antara wisatawan dan kehidupan desa. Di dalamnya terdapat balai pertemuan, homestay, aktivitas budaya, hingga ruang interaksi sosial. Singkatnya, yang ingin dibangun bukanlah sekadar gedung, melainkan ekosistem kehidupan.
Seiring waktu, kita dihadapkan pada realitas yang sering kali bersimpangan dengan visi awal. Kita harus berani mengakui bahwa meskipun beberapa Balkondes berkembang, tidak sedikit yang terjebak dalam kondisi:
Jarak antara apa yang dirancang dan apa yang terjadi di lapangan ini tidak seharusnya membuat kita menyesal, melainkan menjadi titik tolak untuk melakukan refleksi mendalam.
Dari pengamatan saya, ada empat pergeseran mendasar yang membuat Balkondes seolah “kehilangan arah”:
Sebagai bagian dari proses sejarah ini, saya memandang bahwa kegagalan bukanlah pada gagasannya, melainkan pada cara kita menghidupkannya. Untuk memperbaiki arah, ada beberapa langkah krusial yang perlu dipertimbangkan:
“Yang perlu dilakukan bukanlah menyalahkan, melainkan mengembalikan arah agar pembangunan, pariwisata, dan masyarakat bisa berjalan selaras.”
Evaluasi Menuju Pemaknaan Ulang
Balkondes adalah sebuah perjalanan panjang dan proses belajar bersama. Harapan itu belum hilang; ia hanya perlu dihidupkan kembali dengan cara yang lebih membumi, lebih partisipatif, dan lebih setia pada ruh awalnya.
Borobudur akan tetap menjadi cahaya besar. Tantangan kita sekarang adalah memastikan bahwa cahaya itu benar-benar menerangi hingga ke dapur-dapur penduduk desa, bukan hanya terlihat terang dari kejauhan.