1
1
Di tengah gemerlap narasi besar tentang Candi Borobudur sebagai warisan dunia, hadir sebuah buku yang memilih berdiri di sisi yang jarang disorot: suara masyarakatnya. Buku “Pesan Alam Dalam Bumi Karma Borobudur (Sapa Gawe Nganggo)” karya Sucoro bukan sekadar catatan, melainkan kesaksian hidup tentang pergulatan, pemaknaan, dan keberpihakan pada nilai-nilai yang kerap terpinggirkan.
Buku ini merupakan pengembangan dari karya sebelumnya, yang merekam perjalanan panjang pengelolaan Borobudur dari sudut pandang warga lokal. Sucoro, sebagai bagian dari masyarakat yang hidup di sekitar kawasan Borobudur, menuliskan bukan hanya sejarah, tetapi juga pengalaman personal dan kolektif yang menyatu dalam dinamika perubahan kawasan tersebut.
Lebih dari sekadar buku sejarah, karya ini adalah refleksi kritis terhadap cara kita memandang Borobudur hari ini. Di satu sisi, Borobudur menjadi simbol kebanggaan global diakui dunia, dikunjungi jutaan orang, dan terus dikembangkan sebagai destinasi wisata. Namun di sisi lain, buku ini mengajak pembaca melihat realitas yang lebih dalam: bagaimana nilai-nilai spiritual, kearifan lokal, dan peran masyarakat justru sering kali terpinggirkan dalam arus besar komersialisasi dan pendekatan pengelolaan yang bersifat top-down.
Melalui narasi yang jujur dan apa adanya, Sucoro mengangkat konsep “pesan alam” sebuah ajakan untuk kembali mendengarkan suara yang lebih halus, lebih jernih, dan lebih mendasar: suara alam, suara batin, dan suara masyarakat. Dalam buku ini, alam tidak hanya menjadi latar, tetapi juga guru kehidupan yang mengajarkan keseimbangan antara manusia, budaya, dan spiritualitas.
Salah satu kekuatan utama buku ini terletak pada keberanian untuk menghadirkan perspektif alternatif. Ketika banyak tulisan tentang Borobudur berbicara dari sudut pandang akademik atau kebijakan, buku ini justru berbicara dari pengalaman nyata di lapangan tentang relokasi, pembatasan ruang hidup, perjuangan komunitas, hingga lahirnya gerakan budaya seperti Ruwat Rawat Borobudur sebagai bentuk perlawanan sekaligus pelestarian nilai.
Tidak hanya itu, buku ini juga mengajak pembaca memahami Borobudur sebagai “kitab kehidupan” yang terukir dalam batu. Relief-reliefnya bukan sekadar ornamen, melainkan narasi peradaban yang memuat ajaran tentang hukum sebab-akibat, perjalanan manusia, hingga pencapaian kesadaran tertinggi. Dalam konteks ini, Borobudur menjadi ruang dialog antara masa lalu dan masa kini, antara tradisi dan modernitas.
Lebih jauh, buku ini menegaskan bahwa pelestarian tidak bisa hanya dimaknai sebagai menjaga fisik bangunan. Pelestarian sejati adalah menjaga ruhnya nilai, makna, dan hubungan manusia dengan warisan tersebut. Dan di sinilah peran masyarakat lokal menjadi sangat penting, karena merekalah yang selama ini hidup, merawat, dan memberi makna pada Borobudur secara berkelanjutan.
Pesan Alam Dalam Bumi Karma Borobudur bukan hanya buku untuk dibaca, tetapi untuk direnungkan. Ia mengajak kita bertanya ulang: untuk siapa Borobudur dijaga? Siapa yang benar-benar merasakan manfaatnya? Dan apakah kita masih mampu mendengar suara alam di tengah riuhnya kepentingan?
Pada akhirnya, buku ini adalah undangan untuk kembali menempatkan Borobudur bukan sekadar sebagai objek wisata, tetapi sebagai pusat peradaban yang hidup—yang menyatukan manusia, alam, dan nilai-nilai spiritual dalam satu kesadaran utuh.