1
1
Di sebuah Warung sederhana, empat orang “ kroni “duduk lesehan mengelilingi meja kayu rendah. Secangkir teh, rokok, dan tawa ringan menjadi pengiring percakapan mereka. Sekilas, tampak seperti obrolan biasa guyon santai khas masyarakat Jawa. Namun, di balik tawa yang pecah, terselip percakapan serius tentang satu hal: Borobudur.
Dalam suasana yang cair dan penuh keakraban, mereka saling melempar candaan tentang “keadaan Borobudur setelah empat puluh tahun.” Tawa yang muncul bukan semata karena kelucuan, melainkan bentuk ironi sebuah cara halus untuk menyampaikan kegelisahan.
Candi Borobudur, yang selama ini diagungkan sebagai simbol peradaban besar Nusantara, kembali menjadi bahan refleksi. Dalam obrolan itu, muncul kritik bahwa Borobudur kini lebih sering diposisikan sebagai objek ekonomi ketimbang sumber nilai. “Kadang seperti cuma jadi tontonan,tanpa tuntunan” celetuk salah satu dari mereka, disambut tawa yang seolah menyembunyikan kegundahan.
Guyonan tersebut justru memperlihatkan bagaimana masyarakat memandang adanya pergeseran makna. Borobudur, yang dahulu dibangun sebagai mahakarya spiritual dengan struktur mandala dan relief perjalanan batin manusia, kini kerap dipahami secara dangkal. Dalam candaan mereka, muncul istilah “seperti fosil” diam, dipamerkan, tetapi tidak benar-benar dihidupkan maknanya.
Padahal, secara historis, Borobudur merupakan pencapaian luar biasa peradaban Jawa kuno pada abad ke-8 hingga ke-9. Ia bukan sekadar bangunan, melainkan representasi perjalanan kesadaran manusia. Pengakuan dunia melalui status Warisan Dunia UNESCO seharusnya menjadi pengingat bahwa nilai Borobudur bersifat universal dan mendalam.
Namun, dalam perbincangan santai itu, tersirat pertanyaan besar: apakah masyarakat hari ini masih mampu menangkap makna tersebut? Atau justru semakin jauh, terjebak dalam logika ekonomi dan pariwisata semata?
Salah satu dari mereka menyebut, sambil tersenyum, bahwa yang tumbuh hari ini bukan lagi “intelektual organik” yang merawat nilai, melainkan “kapitalisme organik” yang sibuk menghitung manfaat. Tawa kembali pecah, tetapi kali ini terasa lebih getir.
Meski begitu, percakapan tidak berhenti pada pesimisme. Di sela-sela guyonan, muncul harapan. Mereka menyadari bahwa masih ada “geliat kecil” di masyarakat upaya-upaya sederhana untuk menghidupkan kembali nilai Borobudur. Dari diskusi seperti ini, dari ruang-ruang kecil, kesadaran itu perlahan tumbuh.
Inisiatif seperti gerakan budaya Ruwat-Ruwat Borobudur hingga Kompetisi Opini – Kongres Borobudur pun disebut sebagai langkah awal untuk membuka ruang refleksi publik. Bahwa Borobudur tidak hanya milik masa lalu, tetapi juga bagian dari masa depan yang harus terus dimaknai ulang.
Di akhir perbincangan, tawa kembali terdengar. Namun kali ini, tawa itu bukan sekadar guyonan. Ia adalah cara masyarakat menjaga kewarasan menertawakan keadaan, sambil diam-diam menyimpan harapan bahw Borobudur tidak benar-benar kehilangan ruhnya.